Film: The Equalizer (2014)

Sejak awal menonton trailer-nya, The Equalizer tidak begitu menarik perhatian saya. Denzel Washington memang termasuk salah satu aktor yang saya sukai penampilannya, tapi semua promosi film ini memberi saya kesan bahwa film ini terlalu mirip dengan serial film Taken: Seorang mantan pasukan khusus atau agen rahasia yang sudah pensiun dan ingin hidup damai, tapi karena satu dan lain hal harus turun gunung dan menghabisi segerombolan penjahat. Seluk-beluk ceritanya sudah saya tahu, dan saya tak berminat untuk porsi kedua jika rasanya masih sama.

equalizer

Tapi, yah, berhubung film ini muncul di TV saat malam minggu saya sedang lowong, saya coba menontonnya untuk melihat apakah The Equalizer menawarkan sesuatu yang lebih.

Dari segi karakter, saya lebih menyukai tokoh yang diperankan Denzel, Robert McCall, dibanding tokoh utama dalam film-film sejenis lainnya yang cenderung datar. Mungkin karena karakternya setipe dengan karakter tokoh-tokoh yang biasa dimainkan Denzel di film aksi: Cool namun sebenarnya bersahabat, serta berusaha tidak menonjol tapi bisa menjadi sangat badass jika dibutuhkan. Masih kurang unik dan inovatif, tapi Denzel, seperti biasa, memainkan perannya dengan cukup baik.

Karakter-karakter lainnya yang cukup menonjol dari The Equalizer adalah tokoh antagonisnya, seorang algojo mafia Rusia bertangan dingin yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Marton Csokas. Chloe Grace Moretz, meski hanya tampil di sepertiga awal film, juga mampu meninggalkan kesan positif dengan perannya sebagai PSK yang dipukuli oleh mafia Rusia dan memicu McCall untuk beraksi.

Karakterisasi yang lebih mendalam ini mungkin berefek agak negatif pada adegan-adegan aksinya. Untuk ukuran film aksi, adegan-adegan yang menonjolkan keganasan McCall cukup jarang. Seperempat film pertama dihabiskan untuk membangun karakter McCall, lalu ada dua-tiga adegan aksi di pertengahan film, dan barulah di lima belas menit terakhir ada klimaks penuh aksi yang begitu memuaskan.

Untungnya secara kualitas tak ada yang buruk dari adegan aksi di The Equalizer. Dibandingkan dengan Taken, misalnya, adegannya aksi di film ini disutradarai dengan lebih rapi dan tidak terlalu banyak berguncang sehingga saya lebih bisa menikmati detail aksinya. Tapi dari sisi kuantitas, penikmat film aksi pasti akan mengharapkan lebih.

Sayangnya saya juga betul ketika memperkirakan bahwa film ini rasanya tak jauh beda dengan Taken: Terlalu mengandalkan pakem-pakem lama. Kalau mengharapkan aksi yang lebih bombastis atau cerita yang lebih kreatif, The Equalizer tampaknya terlalu takut untuk membuat terobosan baru.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s