Web Log 5 – 18 Oktober 2015

Ticket to Armistice – Japanese leaflet dropped on Allied troops, 1942 (Rare Historical Photos) – Propaganda tentara Jepang di masa Perang Dunia II agar tentara sekutu menyerahkan diri. Disertai gambar wanita bugil; Alasannya agar tentara musuh tak bisa menahan diri untuk melihatnya berulang-ulang sehingga membangkitkan gairah bercinta dan menurunkan semangat bertempur.

For Muslim-Americans, Baby Aidan or Baby Muhammad? (The New York Times) – Pemikiran panjang mengenai bagaimana seorang ayah akan menamai anaknya dalam konteks seorang Muslim Amerika di era pasca-9/11. Rupanya banyak yang memberikan nama yang ‘tidak terlalu Muslim’ supaya anaknya tidak mendapat masalah di sekolah dan pergaulan.

Harvard’s Prestigious Debate Team Loses to Group of Inmates (NBC News) – Satu contoh yang (sayangnya) langka mengenai bagaimana hasilnya ketika konsep ‘pemasyarakatan’ dalam istilah ‘lembaga pemasyarakatan’ benar-benar diterapkan: Bukan untuk mengasingkan orang jahat dari masyarakat, tapi untuk merehabilitasi orang jahat agar bisa kembali ke masyarakat. Saya tebak dalam beberapa tahun ke depan adaptasi filmnya muncul dan memenangkan Oscar.

The Invisible Late-Night Knapsack (I Am Begging My Mother Not To Read This Blog) – Membahas tentang konsep the invisible knapsack (istilah yang sudah lama tak saya dengar semenjak lulus kuliah) dalam konteks acara bincang-bincang larut malam di Amerika. Ada introspeksi yang menarik mengenai mengapa seringkali terasa sulit mendiskusikan privilese sosial dengan orang yang ras atau gendernya dominan:

They become frustrated during these conversations because they feel attacked. They feel invalidated. They feel like their arguments aren’t considered valid, because they can only speak from their own experiences, and it’s hard to believe that there is a problem when you can’t see that it’s there.

They assume that they must fall into one of two categories, “nice” or “oppressive,” and no one wants to be “oppressive,” but if they argue with anything that I’m saying, they certainly can’t be “nice.” So they shut down. Or become angry. Or stop listening.

A Brief History of the End of the Comments (Wired) – Rupanya mulai nge-trend bagi situs-situs berita besar untuk mematikan fitur komentarnya. Alasannya adalah banyak komentar yang kasar atau tidak berbobot, dan itu bisa mempengaruhi persepsi orang terhadap situsnya secara keseluruhan; Moderasi yang ketat bisa menjadi solusi, tapi nampaknya itu memakan sumber daya yang besar jika lalu lintas situsnya tinggi.

The White Man in That Photo (Films for Action) – Kisah aksi heroik yang menyorot satu-dua orang memang berisiko ‘meminggirkan’ peranan orang-orang di sekelilingnya yang mungkin juga turut andil. Ini salah satunya, tentang seorang atlit kulit putih asal Australia yang ingin memberikan dukungan pada gerakan desegregasi di Amerika yang diekspresikan teman/saingannya sesama atlit di podium.

Don’t let the Nobel prize fool you. Economics is not a science. (The Guardian) – Kritik mengenai kategori ekonomi dalam hadiah Nobel; Selain diskriminatif terhadap ilmu-ilmu sosial lainnya, kategori ini dianggap membuat para ekonom terlalu jumawa menganggap ilmu mereka sama pastinya dengan ilmu alam.

Death of a film legacy: remembering Indonesia’s Bachtiar Siagian (The Conversation) – “Siapa?” Itu reaksi saya ketika membaca judulnya. Seorang sutradara yang dianggap sebagai rivalnya Usmar Ismail, hanya saja ia berada di sisi sejarah yang salah pasca 1965. Dibanding Pramoedya, misalnya, nasib orang ini jauh lebih malang. Cuma satu kopi filmnya yang selamat dari penghancuran, dan namanya dihapus dari sejarah perfilman.

Why ‘Mom’ and ‘Dad’ Sound So Similar in So Many Languages (The Atlantic) – Analisis linguistik yang menarik mengenai kesamaan penyebutan ayah dan ibu di beragam bahasa dunia. Rupanya ada kaitannya dengan bagaimana bayi secara alamiah mencoba mulai berbicara dan menyebutkan lafal-lafal pertamanya.

25 Insights on Becoming a Better Writer (99u) – Lagi-lagi tulisan mengenai menulis; Entah kenapa belakangan ini saya jadi tertarik dengan kutipan-kutipan singkat semacam ini. Yang paling mengena untuk saya adalah kutipan #10 dari Jennifer Egan:

[Be] willing to write really badly. It won’t hurt you to do that. I think there is this fear of writing badly, something primal about it, like: “This bad stuff is coming out of me…” Forget it! Let it float away and the good stuff follows. For me, the bad beginning is just something to build on. It’s no big deal. You have to give yourself permission to do that because you can’t expect to write regularly and always write well. That’s when people get into the habit of waiting for the good moments, and that is where I think writer’s block comes from.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s