Pemakan Anjing

Sampai beberapa tahun terakhir ini, menu daging anjing tidak pernah menjadi bagian dari diet rutin saya. Mungkin baru sekitar SMP saya sadar apa itu sebenarnya ‘sengsu’ dan ‘rica-rica’ yang spanduk warungnya selalu saya lihat setiap pulang kampung ke Sragen. Di Sragen pula, kira-kira semasa SMA saya ditipu seseorang untuk menyantap hati anjing. Tapi ya dulu cuma sampai situ; Selebihnya saya tak punya pendapat khusus soal ini.

dog

Baru menjelang menikah saya lebih akrab dengan kuliner ini. Kebetulan keluarga (waktu itu masih calon) istri saya separuhnya berasal dari Toraja, tentu dengan tradisi rica-rica (biasanya daging babi atau anjing) yang kental. Dulu itu juga saya secara prinsip tidak masalah memakannya; Baru belakangan, setelah menikah beberapa lama, saya mulai berani mengurangi porsi jika ditawari, tapi itu lebih karena memang panasnya daging dan pedasnya bumbu tidak terlalu kompak dengan lidah dan perut saya.

Karena tradisi itulah, istri saya sejak kecil sudah terbiasa memakan daging anjing (meski bukan menu harian, tapi menu itu tetap cukup sering hadir). Padahal sejak kecil keluarga mereka juga memelihara anjing untuk waktu yang cukup lama; Mungkin selain karena tidak pernah lihat anjing hidup yang disembelih sampai dicacah jadi potongan daging siap masak, ada pembedaan persepsi antara anjing untuk konsumsi dengan anjing untuk dipelihara. Mirip seperti orang yang pelihara ikan atau ayam tapi juga tidak alergi untuk makan sup ikan atau ayam goreng tepung – yang penting bukan ikan atau ayam mereka yang masuk panci atau wajan penggorengan.

Tapi sekarang ini saya merasa ingin mengambil standar yang lebih jelas mengenai konsumsi daging anjing. Bukan sepenuhnya masalah etis macam soal membunuh makhluk bernyawa per se atau bahwa anjing itu adalah hewan ‘teman’, bukan hewan ternak yang dibiakkan untuk makanan; Saya masih makan daging binatang-binatang lainnya dan rasanya saya belum bisa sepenuhnya melepaskan kebiasaan itu.

Pertimbangan saya kira-kira 20 persen masalah etis dan 80 persen masalah kesehatan. Masalah etisnya bagi saya adalah cara penyembelihannya yang belum terstandar. Penyembelihan hewan ternak standar ala syariat Islam dan Yahudi saja masih diperdebatkan sejauh mana menimbulkan rasa sakit, apalagi penyembelihan anjing yang -menurut berbagai reportase- beragam metodenya: Dipukuli sampai mati, ditembak, diracun, direbus hidup-hidup, dan mungkin ada cara-cara lainnya yang tak terpikirkan oleh saya. Tapi kayaknya tidak ada satupun dari metode di atas yang dirancang agar si korban mati seketika dan tidak merasakan sakit yang berkepanjangan.

Masalah yang kedua adalah soal kesehatan. Setahu saya sampai saat ini di Indonesia tidak ada peternakan khusus anjing yang akan dikonsumsi, sehingga ratusan ribu anjing yang dimakan di Indonesia harus diperoleh dengan cara lain, seperti menculik anjing jalanan, membeli anjing warga secara sporadis, atau mencuri anjing milik orang lain. Akibatnya tidak ada kejelasan mengenai kondisi kesehatan para anjing itu. Tak ada pantauan berkala dari pengepul, rumah potong, atau pemerintah apakah mereka tidak memiliki penyakit yang membuat daging mereka aman dikonsumsi manusia.

Dan itu belum lagi berbicara mengenai rumah potong anjing yang tidak memiliki standar lingkungan yang setara dengan rumah potong ternak pada umumnya. Dari apa yang saya baca, rumah potong anjing seringkali dibangun di area pemukiman, sehingga tetangga-tetangga bisa mendengar lolongan anjing sebelum mereka disembelih pada dini hari. Juga limbah-limbah mereka diperlakukan seperti sampah rumah tangga, sehingga bagian-bagian anjing yang tak terpakai diambil oleh tukang sampah seperti biasa, sementara darahnya dibiarkan mengalir ke got.

Singkatnya, distribusi dan pengolahan daging anjing untuk konsumsi masih terlalu bebas bagi saya untuk bisa menikmati daging anjing secara aman dan nyaman. Untungnya keluarga saya  tidak memiliki tradisi ini, sehingga saya tidak merasa kehilangan sensasi nostalgia bila tidak menyantapnya lagi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s