Film: The Maze Runner (2014)

Sewaktu saya pertama kali mendengar tentang The Maze Runner tahun lalu, saya tidak begitu teryakinkan untuk menontonnya di bioskop. Yang saya tahu hanyalah sebuah labirin yang mematikan dan sekelompok remaja yang mengarunginya, tapi bagi saya trailer dan sinopsisnya terlihat seperti film fantasi/fiksi ilmiah generik untuk remaja; Satu lagi pengikut jejak The Hunger Games yang ingin menikmati sepercik kesuksesannya, dan mungkin satu lagi pengekor yang gagal seperti Percy Jackson.

mazerunner

Kesan pertama saya rupanya salah,  karena awal ceritanya sendiri cukup mengulik rasa penasaran: Seorang anak muda diturunkan di tengah sebuah labirin dengan amnesia; Satu lagi dari puluhan anak muda serupa yang telah diturunkan berkala sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka membentuk sebuah komunitas kecil di tengah labirin itu untuk bertahan hidup, namun setiap pagi beberapa orang yang dijuluki runner ditugaskan menjelajahi labirin untuk mencari jalan keluar sebelum matahari terbenam dan para monster mematikan yang bernama griever mulai bermunculan…

Ya, sejak awal saya memang lebih tertarik dengan apa dan mengapa labirin misterius itu bisa ada, dan mengapa sekelompok anak muda dengan amnesia diletakkan di tengahnya tanpa arahan apa-apa. The Maze Runner berhasil merawat dan menumbuhkan suspense saya sampai film hampir berakhir… di mana semua pertanyaan dijawab dengan segala klise yang sudah beberapa kali saya jumpai dalam film semacam ini. Ah, betapa saya ingin filmnya memberikan jawaban yang berbeda, sesuatu yang unik dan orisinal; Tapi tampaknya sekuel The Maze Runner bakal tak jauh beda dengan Catching Fire.

Sangat disayangkan memang, karena mungkin cuma aspek ceritanya yang menarik bagi saya sepanjang menonton film ini. Para pemerannya (yang hampir semuanya tak saya kenal) tidak memberikan akting yang meyakinkan dan gagal membuat saya berempati dengan perjuangan mereka; Dalam keahlian menampilkan rentang emosi dan karisma, jelas tak ada yang sekaliber Jennifer Lawrence-nya The Hunger Games di sini.

Si labirin sendiri menurut saya juga cukup mengecewakan; Ketika saya mendengar konsep ‘labirin mematikan’, saya mengharapkan perangkap yang siap menjerat dari segala arah jika salah melangkah, beragam makhluk ganas dengan perilaku yang susah ditebak, atau teka-teki mematikan yang membutuhkan kemampuan otak dan kreativitas untuk dipecahkan. The Maze Runner memang menampilkan labirin yang berubah-ubah bentuk setiap harinya, namun selain itu dan para griever, tidak ada lagi yang istimewa.

Pada akhirnya, The Maze Runner adalah film gagal bagi saya. Satu-satunya kekuatan film ini, cerita awalnya, punya potensi untuk menjadikannya sesuatu yang berbeda dari film-film fantasi/fiksi ilmiah remaja di luar sana. Tapi penyelesaiannya yang begitu standar membuat saya tidak berselera untuk menonton sekuelnya yang akan segera baru saja tayang.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s