Film: The Martian (2015)

Begitu melihat trailer pertama The Martian yang menempatkan Matt Damon di tengah lampu sorot, mau tak mau saya jadi teringat dengan Interstellar, di mana karakter yang diperankannya mengalami nasib yang serupa sebagai subplot-nya: Terdampar di sebuah planet dan harus bertahan hidup sampai bantuan tiba. Namun di The Martian, ini adalah kisah utamanya. Dan dengan Ridley Scott yang biasanya piawai menyutradarai film-film bertema luar angkasa, saya dibuat cukup penasaran dengan hasil akhirnya.

themartian

Satu hal yang cukup menonjol mengenai The Martian adalah ceritanya yang sangat terfokus: Satu-satunya hal yang penting adalah bagaimana Mark Watney -karakternya Matt Damon- bisa bertahan hidup, dan bagaimana rekan-rekannya di NASA harus mencari cara untuk bisa menjemputnya. Tidak ada drama sampingan yang emosional mengenai tunangan yang menunggu di rumah, metafora filosofis mengenai kematian dan kolonisasi dunia baru, adegan aksi dan ledakan bombastis ala Hollywood, atau twist berbau thriller di mana Watney mendapati bahwa ia ternyata tidak sendirian; Film ini sepenuhnya mengenai survival yang diceritakan dengan sangat realistis dan membumi (ha!).

Hal lain yang memberi The Martian keunikan dibanding film-film fiksi ilmiah mengenai penjelajahan luar angkasa adalah atmosfirnya yang ringan (ha!…again). Di awal-awal memang ada sejumput ketegangan dan keputusasaan Watney begitu tahu ia tertinggal sendirian di Mars, tapi yang sampai akhir yang kita temui adalah Watney yang penuh kegigihan, optimisme, dan humor dalam menghadapi segala masalah. Karakter yang serupa juga ditemukan pada hampir setiap tokoh lainnya di film ini, sehingga bisa dibilang hampir tidak ada konflik antarmanusia yang berarti dalam The Martian; Meski ada ketidaksepahaman, semua orang bersatu padu untuk tujuan yang sama… sambil sesekali melontarkan lelucon atau melakukan sesuatu yang lucu bagi penonton.

Dan…mungkin karena dua hal itulah The Martian sedikit mengganjal bagi saya. Memang menyegarkan melihat film fiksi ilmiah yang tidak berkubang dalam drama atau aksi yang berlebihan, tapi film ini seperti ditarik terlalu jauh ke kutub ekstrem yang lain. Hampir semua karakter terlalu kompeten dan tenang dalam menghadapi setiap situasi hidup dan mati, sehingga saya tidak merasakan pertaruhan nyawa yang mendebarkan setiap masalah berikutnya muncul; Tenang saja, Watney si jenius teknik pasti menemukan cara untuk mengatasinya – kalau tidak, teman-teman pintarnya di NASA sudah duluan menemukan solusi yang siap disampaikan ke Watney semudah berbincang di WhatsApp.

Seusai menonton The Martian, istri saya berujar, “Mirip Cast Away ya.” Setelah dipikir-pikir, betul juga. Ketimbang membandingkan film ini dengan Interstellar atau Gravity, The Martian sebenarnya adalah Cast Away di planet Mars. Sayangnya, film ini mungkin terlalu cerdas untuk bisa memberikan cerita yang memikat mengenai bagaimana rasanya terdampar di sebuah planet yang 54 juta kilometer jauhnya dari bumi.

Iklan

3 comments

  1. […] Sampai di sini Arrival masih agak terdengar seperti reboot film Independence Day yang fenomenal di tahun 1996 itu. Untungnya film ini kemudian mengambil jalan yang – meski minim aksi – lebih elegan seperti Contact dan Close Encounters of the Third Kind. Maka yang saya dapati hampir sepanjang Arrival adalah usaha ilmiah Banks dan Donnelly untuk mempelajari bahasa tertulis yang digunakan para alien itu dan berkomunikasi dengan mereka; Ini adalah gaya pengisahan fiksi ilmiah yang saya sukai dan sedikit mengingatkan saya akan kerja para awak NASA dalam film The Martian. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s