Film: Gone Girl (2014)

Saya berusaha keras untuk menghindari spoiler film Gone Girl; Itu saja sebenarnya merupakan sebentuk kegagalan, karena saya sudah keburu tahu ada twist besar di tengah ceritanya. Tapi memang sulit menjaga diri dari riuhnya pembicaraan mengenai film ini karena banyak tanggapan positif dari kritikus dan penonton serta nominasi penghargaan di mana-mana. Satu-satunya hal yang membuat saya belum menontonnya sampai muncul di TV kabel adalah novel aslinya yang dibeli oleh istri saya (yang sampai saat ini juga belum terbaca). Jadi daripada menunggu mood untuk membacanya muncul entah kapan, saya ‘menyerah’ dan memilih untuk menontonnya saja.

gonegirl

David Fincher, sutradara Gone Girl, sebelumnya pernah menyutradarai film Zodiac (2007) yang pernah saya tonton juga. Dan begitu saya menonton film ini, ciri khasnya masih terlihat jelas: Adegan-adegan yang sebenarnya kebanyakan cukup biasa-biasa saja, tapi -entah karena sudut pengambilan gambar, pencahayaan, gradasi warna, musik, dialog, atau gestur karakternya – bisa membuat saya merasa tertekan, depresif, dan tidak nyaman… tentu semuanya dalam artian yang positif untuk sebuah film berjenis thriller psikologis. Perasaan itu jarang saya temui di film-film sejenis lainnya, yang biasanya mengandalkan ketegangan dan rasa penasaran yang lebih gamblang untuk memikat penontonnya.

Tapi itu bukan berarti cerita Gone Girl tidak memicu rasa penasaran saya. Sebaliknya, skenario film ini, yang juga ditulis oleh pengarang novel aslinya, mampu menjaga antusiasme saya sepanjang film. Ketika satu simpul cerita sudah mulai terurai, Gillian Flynn -si pengarang novelnya- menambahkan kejutan-kejutan kecil yang membelokkan cerita ke arah lain sehingga perhatian saya tetap terjaga untuk melihat ke arah mana lagi cerita berkembang. Bahkan setelah twist yang cukup besar terjadi di pertengahan film (yang sudah bisa diprediksi oleh saya dan karakter-karakternya juga), cerita film ini tetap menarik minat saya; Dengan karakter-karakter yang ditulis dengan kuat, saya masih harus tahu mengapa para karakter itu melakukan apa yang mereka lakukan.

Dan berbicara mengenai karakter, Rosamund Pike memang pantas mendapatkan nominasi Oscar atas perannya sebagai Amy Dunne, si istri yang hilang. Amy digambarkan sebagai karakter yang sepintas terlihat biasa-biasa saja, tapi menyembunyikan kepribadian yang kompleks di bawah permukaannya. Pike dengan gemilang berhasil membawakan kerumitan karakter Amy, lengkap dengan hal-hal detail yang mungkin tak ditangkap kebanyakan penonton secara sadar seperti pandangan mata atau perubahan nada suara. Efek sampingnya, akting Ben Affleck sebagai suami Amy, Nick Dunne, jadi terlihat biasa-biasa saja; Malah mengingatkan saya akan kemonotonan ekspresinya seperti di film Argo. Padahal sebenarnya karakter Nick Dunne juga ditulis dengan sangat baik sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya Gone Girl adalah film yang kuat; Dari segi penyutradaraan, cerita, maupun akting, film ini hampir tak ada celanya. Tapi ada satu aspek lagi yang ingin saya puji dari Gone Girl, yaitu soundtrack-nya yang dibuat oleh Trent Reznor dan Atticus Ross. Keduanya mampu menciptakan musik ambient yang memperkuat atmosfir utama film ini: Suram – dan bahkan dalam momen-momen yang terlihat terangpun, ada kegelapan tak terduga yang menunggu-nunggu di tikungan berikutnya. Berikut saya lampirkan satu contohnya:

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s