Web Log 7-20 September 2015

Setelah ditimbang-timbang lagi, Web Log baru setiap minggu rasanya masih terlalu padat untuk blog ini. Jadi tampaknya lebih baik jika Web Log dijadwalkan menjadi setiap dua mingguan saja. Semoga mulai kali ini sudah tidak terlalu ramai lagi…

Why drivers in China intentionally kill the pedestrians they hit (Slate) – Fenomena tragis mengenai mengapa di Tiongkok membunuh orang yang tertabrak dianggap lebih ‘menguntungkan’ dibanding membiarkannya tetap hidup. Gabungan antara peraturan yang cacat, aparat hukum yang ‘sebodo’, dan moral yang sangat pragmatis.

Pope: Vatican will shelter 2 families fleeing war, hunger (Yahoo! News) – Paus Fransiskus menyerukan agar tiap paroki di Eropa bisa mewadahi setidaknya satu keluarga pengungsi. Setelah dihitung-hitung, 27.000 paroki di Italia saja -jika setiap parokinya mengambil satu keluarga berisi empat anggota- mampu menampung 108.000 pengungsi.

We’re Busy. Get an Abortion (The Economist) – Sudah jadi rahasia umum bahwa dunia kerja di Jepang tidak ramah perempuan yang ingin berkarir dan memiliki anak. Dengan biaya hidup yang makin tinggi, banyak yang memilih karir. Krisis demografi mestinya jadi kepedulian semua pihak, tapi para pebisnis nampaknya masih memikirkan produktivitas jangka pendek.

How Making Time for Books Made Me Feel Less Busy (HBR) – Menurut penulis, kuncinya adalah menyerap informasi yang lebih lambat dan tak gampang berubah-ubah – yaitu buku, tentu saja. Juga ada tips-tips yang menarik untuk meluangkan waktu membaca di tengah rutinitas, meski saya tak yakin bisa seberapa kuat mematuhinya.

Bilakah Gereja Merestui Perceraian (Flying So Light to the Sky) – Postingan dari mbak Priska mengenai gereja yang lebih ramah terhadap mereka yang bercerai, meski secara dogma tetap tidak menghalalkan perceraian. Post lain yang menarik: Jadilah Turis yang Bukan Polisi Moral, berikut kutipan dari Clifton Fadiman yang saya suka:

When you travel, remember that a foreign country IS NOT DESIGNED to MAKE YOU COMFORTABLE. IT IS DESIGNED to make ITS OWN PEOPLE COMFORTABLE.

The Biggest Mistakes People Make When They Start A Webcomic (io9) – Berharap untung cepat dalam waktu bulanan (dan bukan tahunan), terlalu mengedepankan bisnis, dan merasa punya stamina yang cukup padahal tidak. Memang untuk webcomic, tapi saya pikir bisa diaplikasikan ke bidang usaha lainnya. Menulis, misalnya.

Menulis tanpa Membaca, Mungkinkah? (Donny Verdian) – Menantang adagium lama bahwa untuk bisa menulis harus banyak-banyak membaca, yang sulit dilakukan jika susah berkonsentrasi dalam waktu lama dan tak punya banyak waktu. Alternatifnya, menurut Mas Donny, adalah banyak-banyak menonton video yang lebih ringkas dan gampang dicerap.

Hot Waitress Economic Index (Investopedia) – Teorinya: kondisi ekonomi bisa dilihat dari seberapa banyak pelayan restoran yang cantik atau tampan. Semakin banyak yang berperawakan menarik, tandanya perekonomian masih melemah.

I Love the Victorian Era. So I Decided to Live in It (Vox) – Sepasang suami istri yang memutuskan untuk bergaya hidup seperti sepasang gentleman/gentlewoman di zaman Victoria. Yang awalnya saya baca justru kritik atas cerita aslinya [To Hell with Vox’s Victorian Living Idiots (The Concourse)], yang merasa mereka meromantisasi sejarah dan mengabaikan kenyataan bahwa banyak elemen kebudayaan high-class di zaman itu dibangun di atas penjajahan dan eksploitasi koloni Inggris.

Btw, rupanya banyak cerita menarik di Vox dalam kategori First Person.

Semua, Seluruh, Segala, Sekalian, Segenap (Beritagar) – Rubrik bahasa baru di Beritagar yang diasuh oleh Ivan Lanin. Sangat informatif dan mencerahkan, seperti biasa, bahkan bagi saya yang merasa sudah cukup berusaha untuk berbahasa dengan baik dan benar.

Inovasi Pendidikan India [1] [2] [3] (Blog Bukik) – Catatan perjalanan dari Bukik yang ikut Mendikdas Anies Baswedan studi banding (yang benar-benar studi banding) ke India. Konsep-konsep pendidikannya terdengar radikal, tapi toh nyatanya sudah terbukti efektif di negara sesemrawut India. Akan menarik melihat bagaimana aplikasinya di sini.

It’s finally out–The big review paper on the lack of political diversity in social psychology (Heterodox Academy) – Paper yang mengkritik betapa homogennya pandangan politik (mayoritas liberal) di dunia penelitian psikologi, utamanya psikologi sosial. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, dan semuanya menyebabkan bias nilai, berkurangnya obyektivitas, hingga diskriminasi dalam penelitian dan pendidikan psikologi.

The Bacon Boom Was Not an Accident (Bloomberg) – Sejarah mengenai trend konsumsi daging babi di Amerika Serikat. Tadinya saya kira itu memang sudah budaya ‘dari sononya’, tapi rupanya ada banyak peran pemasar dan peneliti dari asosiasi peternak babi dalam mempopulerkannya – bukan langsung ke konsumen, tapi melalui lobi-lobi ke jaringan restoran cepat saji.

Social sciences and humanities faculties to close in Japan after ministerial decree (Times Higher Education) – Menteri pendidikan  Jepang menyurati 86 universitas negerinya untuk menghimbau agar mereka menutup fakultas-fakultas ilmu sosialnya dan mengalihkan sumber daya mereka ke bidang yang lebih melayani kebutuhan masyarakat. Ini… terdengar seperti kebijakan yang sangat reaktif, dangkal, dan berjangka pendek.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s