Film: Inside Out (2015)

Saya punya segudang harapan untuk Inside Out. Konsep besarnya, bahwa emosi yang kita rasakan punya karakternya sendiri-sendiri di dalam kepala kita, sangat menarik bagi saya yang berlatar belakang psikologi. Selain itu, film ini juga disutradarai dan ditulis oleh Peter Docter, orang yang sama yang telah membuat Up -mungkin salah satu film terfavorit saya sepanjang masa, entah itu animasi atau bukan.

Tapi entah kenapa -mungkin karena palet warnanya yang terlalu ‘kartun anak-anak’- saya tidak begitu bersemangat untuk segera menontonnya. Untungnya saya akhirnya masih sempat menonton film ini di minggu ketiga ia tayang di bioskop.

insideout

Inside Out berkisah tentang Riley, anak perempuan umur 11 tahun yang tiba-tiba harus pindah ke San Fransisco. Tapi bukan Riley yang menjadi tokoh utama film ini, melainkan lima emosi dasar di dalam pikirannya: Joy, Sadness, Disgust, Fear, dan Anger. Joy yang biasanya mendominasi kontrol emosi kini harus beradaptasi dengan perubahan besar ini, termasuk mencegah Sadness yang entah kenapa ingin mencemari ingatan Riley…

Sejak awal cerita Inside Out sudah tepat mengena di hati saya. Sebagai orang yang masa kecilnya juga banyak berpindah-pindah kota, menonton Inside Out rasanya seperti menjalani terapi yang mengaduk-aduk perasaan yang lama terpendam; Saya tak malu mengakui bahwa saya beberapa kali menitikkan air mata menonton film ini – sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dilakukan Up. Jadi sekali lagi saya harus mengacungkan empat jempol untuk Peter Docter atas penceritaannya yang begitu melankolis.

Terlepas dari subyektivitas saya, cerita Inside Out memang benar-benar kuat di segala aspek. Tidak ada tempo yang terlalu lambat atau cepat, atau karakter yang disia-siakan dan tidak digarap maksimum. Bahkan tiga emosi yang tidak menjadi pusat cerita – Fear, Anger, dan Disgust – tetap mendapat porsi penampilan yang pas. Yang menurut saya juga mengangkat cerita film ini adalah para pengisi suaranya yang dipilih dengan baik, karena mereka mampu memberikan suara yang khas dan berkesan pada tiap karakter.

Satu-satunya kekurangan kecil mungkin adalah ceritanya yang sarat nuansa. Meski film semacam ini biasanya dikategorikan untuk semua umur, Lembaga Sensor Film sudah tepat mengkategorikannya dengan rating remaja. Anak-anak kecil yang menonton mungkin belum sepenuhnya bisa menangkap drama dari konflik antara Joy dan Sadness serta pengaruhnya bagi Riley, tapi setidaknya mereka masih tetap bisa terhibur oleh adegan-adegan komikal yang dilakukan Fear, Anger, dan Disgust. Mudah-mudahan orangtua yang menemani mereka berhasil menangkap pesan penting film ini dan bisa menjelaskan dan mengaplikasikannya pada anak-anak mereka.

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s