Film: Sunshine (2007)

Sunshine termasuk salah satu film yang ada di luar radar saya…sampai tahun ini, tentu saja, berkat kanal film di TV kabel saya. Sama sekali belum pernah saya dengar judulnya, dan seingat saya di tahun rilisnyapun (2007) saya tidak pernah menonton trailer maupun membaca berita atau resensi tentangnya. Padahal resume-nya cukup berbobot: Disutradari Danny Boyle (28 Days Later, Slumdog Millionaire) dan dibintangi oleh Cilian Murphy, Chris Evans, dan beberapa bintang lainnya yang cukup punya nama.

sunshine

Premis cerita Sunshine memang terdengar agak konyol: Matahari entah kenapa terancam padam, dan sekelompok astronot dikirim dalam pesawat antariksa bernama Icarus untuk mendekati matahari dan melepaskan sebuah bom nuklir. Ledakan bom nuklir ini, harapannya, dapat memantik kembali proses fusi inti matahari; tapi itu 7 tahun yang lalu, sebelum Icarus hilang secara misterius. Kini sekelompok astronot lain -para tokoh utama dalam film ini- dikirimkan dalam Icarus II untuk misi yang serupa.

Dengan cerita semacam itu, saya kira tadinya Sunshine bakal menjadi film aksi kiamat seperti Armageddon-nya Michael Bay. Tapi saya senang karena salah: Sunshine bisa dibilang adalah film fiksi ilmiah yang benar-benar totok; Antagonis utamanya bukanlah orang, melainkan adalah matahari itu sendiri. Hampir sepanjang film saya larut dalam perjuangan sekelompok manusia yang mencoba bertahan hidup melawan ganasnya kehampaan ruang angkasa dan radiasi matahari yang membakar.

Dan, wow, betapa saya menikmati perjuangan mereka -sekumpulan orang-orang terbaik di bidangnya yang terkurung bersama berbulan-bulan, dengan segala interaksi dan konflik yang terjadi di antaranya; Salut saya untuk si penulis skenario yang bisa memberikan penokohan yang kuat dan unik, juga para aktor dan aktris yang mampu membawakan karakter-karakter mereka dengan brilian. Begitu masalah demi masalah terjadi dan drama mulai terjadi, saya sudah tidak peduli dengan konsep yang saya anggap konyol itu tadi.

Yang agak aneh, menurut saya, dari Sunshine adalah twist yang terjadi di sepertiga terakhir film. Saya merasa gamang mengenai twist ini: Di satu sisi, perubahan struktur yang terjadi membuat cerita tetap menegangkan dan menarik perhatian saya; Di sisi lain, perubahannya begitu drastis dan tiba-tiba sehingga genre-nya berganti. Tadinya saya menghadapi drama fiksi ilmiah yang sarat konflik etis dan filosofis, dan kini saya tiba-tiba menonton film thriller yang lebih konvensional dengan segala klise yang biasa terjadi.

Saya sendiri tidak masalah dengan pergantian genre itu karena pergeserannya masuk di akal; Malah, saya merasa senang karena seperti menonton film 2-in-1: Satu kerangka cerita yang dengan unik difilter melalui dua sudut pandang genre film yang berbeda. Tapi mungkin kebanyakan penonton lain tidak begitu menyukainya sehingga akhirnya daya tarik Sunshine tidak pernah sampai ke telinga saya hingga tahun ini.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s