Kisah-Kisah Konversi

Baru-baru ini ada dua cerita yang muncul hampir bersamaan di timeline Facebook saya. Begini judul keduanya:

“Ditugaskan Mempelajari Al-Qur’an Untuk Menyerang Islam, Pastur Lulusan Vatikan Ini Justru Memutuskan Memeluk Islam”

“Pelaku Kerusuhan Mei 1998 Bertemu Yesus Kristus: Sebuah Kesaksian”

Dengan judul semacam itu, rasanya semua orang sudah bisa menebak seperti apa isinya tanpa perlu diberi tautan.

kitab

Pada Mulanya…

Kisah-kisah konversi seperti itu bukan barang baru dalam kehidupan beragama. Saya tidak tahu detail kitab suci agama lain, tapi seperempat isi kitab suci umat Kristen adalah kisah konversi yang sudah mendapat stempel firman Tuhan; Itu adalah cerita pertobatan seorang Yahudi bernama Paulus dan surat-surat yang ia tulis selama berdakwah di abad pertama masehi.

Untuk yang belum familiar dengan ceritanya: Paulus dulunya menindas orang-orang Kristen, tapi dalam sebuah perjalanan ke Damaskus ia mendapat penampakan Yesus (yang waktu itu sudah wafat dan kemudian dipercaya bangkit) dan buta selama tiga hari. Setelah pengelihatannya dipulihkan oleh seorang murid Yesus, ia bertobat, dibaptis, dan begitu otoritatif mewartakan Injil sehingga pada akhirnya ia digelari rasul – setara dengan dua belas orang pengikut inti Yesus di awal karirnya.

Kisah-kisah konversi yang biasa beredar tentu saja tidak seajaib itu akhirnya. Dulu sejak kecil saya rutin membaca mingguan rohani Katolik bernama majalah Hidup, yang kadang-kadang menampilkan kisah-kisah konversi; Sebagian besar berisi cerita orang biasa dengan pergumulan dan tantangan yang umum dialami oleh kebanyakan orang-orang yang berpindah keyakinan. Sekali-dua kali ada cerita konversi artis, pejabat, atau figur publik ternama, tapi itupun menurut saya masih biasa-biasa saja nadanya.

Dua Arketipe

Entahlah, mungkin saya merasa biasa-biasa saja karena waktu itu saya masih kecil, atmosfer keagamaan khas Orde Baru yang harmonis, atau pakem pewartaan Katolik yang memang tidak terlalu ‘galak’ atau ofensif. Yang jelas saya merasakan tensinya meningkat ketika saya mulai kenal internet, reformasi masih hangat-hangatnya, dan lingkungan saya lebih heterogen. Ada beberapa hal yang saya perhatikan dari kisah-kisah konversi yang saya lihat cukup terkenal dan cepat menyebar.

Yang pertama adalah penggunaan figur otoritas. Ini terutama tampak sekali dari kisah-kisah konversi ke Islam yang luas beredar, biasanya menambahkan predikat rohaniwan yang sangat khatam agamanya atau ilmuwan ateis yang jenius. Menariknya, kebanyakan dari mereka diceritakan pindah karena alasan yang ‘logis’, misalnya kalah debat dari ulama ternama, mendapati temuan ilmiah atau fenomena alam yang ternyata selaras dengan ayat-ayat suci, atau mempelajari Al-Qur’an dan kemudian merasa isinya lebih lengkap dan masuk akal. Dalam sejumlah kasus, beberapa dari mereka sendiri lalu jadi pendakwah (dengan masih membawa dan mempromosikan predikat lamanya).

Yang kedua lebih banyak saya lihat di kisah-kisah konversi ke Kristen. Biasanya yang menjadi fokus dalam kisah tipe dua ini adalah pengalaman berkesan si subyek cerita terhadap seorang penganut agama Kristen. Kesan ini biasanya bersifat emosional; subyek berpindah keyakinan karena hatinya tersentuh melihat si penganut Kristen menjadi role model yang positif serta menonjolkan sikap dan perilaku yang penuh harapan dan kasih. Variasi dari kisah konversi bisa berupa pengalaman spiritual (juga emosional) yang dialami oleh subyek, entah itu mimpi bertemu Bunda Maria atau bahkan Yesus sendiri.

Kedua pendekatan cerita itu tidak 100% eksklusif milik masing-masing agama; saya pernah juga membaca cerita konversi profesor ateis ke Kristen karena kalah debat dengan mahasiswanya, atau cerita konversi seseorang yang mimpi didatangi orang berjubah putih atau mendengar suara adzan sebelum ia masuk Islam. Tapi lebih riuh lagi kisah-kisah konversi yang saya lihat yang sesuai dengan kedua pendekatan itu. Lalu pertanyaannya: Kenapa template-nya bisa banyak yang serupa?

Kalau dilihat-lihat lagi, masing-masing pendekatan tampaknya ingin berfokus pada kekuatan agama barunya. Kisah konversi ke Islam nampaknya ingin menonjolkan sisi agama Islam yang teratur dan ajeg; bahwa Islam memberikan kepastian serta ketenangan hidup karena memiliki norma yang melingkupi semua aspek tingkah laku penganutnya. Selain itu, kebenaran alami agama Islam juga ditinggikan lewat kenyataan ilmiah atau pengakuan kalah dari figur otoritas (yang dulunya) di luar atau melawan dirinya.

Sementara itu kisah konversi ke Kristen ingin menekankan pada transformasi yang terjadi dalam diri seseorang setelah menerima Yesus sebagai tuhannya. Dulu sebelum mengenal Yesus, kehidupan dan tingkah lakunya digambarkan begitu tercela. Setelah dibaptis, si subyek terlahir kembali sebagai pengikut Kristus dengan segala atribut seorang Kristen ideal: Penuh kasih, pemaaf, dan murah hati. Pokoknya, seperti kata ayat Alkitab, menjadi garam dan terang dunia. Persis seperti kisah konversi Paulus yang diceritakan di awal.

Untuk Kalangan Sendiri

Sebenarnya kisah-kisah konversi tidak begitu mengundang masalah jika beredar hanya di lingkaran sesama jemaat. Bagaimanapun umat -terutama yang agamanya sama sejak lahir- butuh validasi bahwa landasan imannya, yang telah jadi bagian kehidupannya sejak lahir, sudah berada di jalan yang benar. Salah satunya ya dalam bentuk testimoni dari pendatang baru, apalagi jika ia memiliki latar belakang yang menonjol atau bersaksi dengan membawa segudang bukti. Ia memberikan ketenangan, harapan, dan meredam keraguan atau satu-dua pertanyaan teologis yang masih terbersit di hati.

Jadi timbul sentimen ketika kemudian kisah-kisah konversi ini -entah sengaja atau tidak- meluber ke internet di mana pembacanya tak bisa dipilah berdasarkan keimanan. Bagi orang yang menganut agama lama -juga kaum nonteis-, kisah konversi bisa dipandang sebagai semacam propaganda dalam perjuangan untuk memperebutkan jiwa-jiwa yang tersesat. Dan reaksi yang spontan ketika menghadapinya adalah mencoba mengabaikannya seolah tak pernah ada, atau bersikap defensif dan melawan.

Saya tak tahu persis bagaimana komunitas agama lain, tapi komunitas orang Katolik sendiri jarang menanggapi kisah-kisah konversi pihak seberang…. kecuali ketika mendapati kisah konversi yang berkaitan dengan figur otoritas, seperti mantan pastor, frater, bruder, atau suster. Kalau sudah membawa-bawa figur otoritas, biasanya mulai bermunculan usaha-usaha untuk mencari kontradiksi atau kesalahan faktual dalam kisahnya. Dan ini mungkin menunjukkan bias saya, tapi memang biasanya terungkap bahwa keaslian latar belakang mereka meragukan.

Namun akhirnya usaha itu ya hanya berhenti di situ saja. Kalangan sendiri sudah cukup puas bahwa mantan figur otoritas itu ternyata palsu, kalangan seberang tetap mengamini bulat-bulat kisah konversi si mantan, si mantan juga tidak terpengaruh aktivitas dakwahnya, dan siklus serupa akan terulang setahun-dua tahun lagi ketika ada tokoh baru mendakwahkan kisah konversinya dengan gimmick yang serupa.

Terus Kenapa?

…Apa ya? Sebenarnya sejak awal saya tidak punya poin khusus yang ingin disampaikan sih. Niatnya hanya ingin sedikit berkomentar mengenai kebetulan lucu yang saya amati di timeline Facebook saya; Entah kenapa jadinya malah melantur ke mana-mana.

Jika saya harus memberikan secarik resep, mungkin ini yang bisa saya katakan: Di pagar sebelah manapun kita berdiri, janganlah terlalu menganggap serius kisah-kisah konversi yang beredar luas. Atau setidaknya, hanya percayalah dengan kisah konversi dari orang-orang yang kita kenal dekat secara pribadi sebelum dan sesudah konversinya.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s