Film: Edge of Tomorrow (2014)

Lagi-lagi Tom Cruise membintangi film fiksi ilmiah yang tidak saya tonton ketika masih tayang di bioskop. Mungkin karena waktu itu saya sedang sibuk; Padahal, premis Edge of Tomorrow lumayan menarik: Alien menyerang bumi, dan karakternya Tom Cruise -prajurit William Cage- tewas dalam gelombang pertama serbuan di pesisir Prancis. Tapi bukannya mati, ia kembali ke satu hari sebelumnya dengan segala pengetahuan dan ingatan mengenai hari esok. Atau seperti kata tagline filmnya: Live. Die. Repeat.

edgeoftomorrow

Bagi orang-orang seperti saya, garis besar filmnya mirip seperti pengalaman bermain game: Kali pertama bermain, kita masih belum familiar dengan lingkungan, musuh, dan cara kerjanya; Maka kita cepat mati. Kita mengulang dari awal level, tapi kini kita bisa melangkah lebih jauh karena belajar dari kematian yang terdahulu -setidaknya sampai kita mencapai tantangan yang lebih sulit dan mati lagi. Begitu saja terus sampai akhir level.

Kalau saya menjelaskannya seperti itu, sepintas cerita Edge of Tomorrow -meski konsepnya menarik- lama-kelamaan akan jadi membosankan. Tapi ternyata tidak; Ada cukup banyak variasi dan twist dalam bagaimana Cage mencoba melangkah lebih jauh sehingga kita tidak disuguhi satu-dua hari yang sama berulang-ulang. Selain itu, ceritanya juga diedit dengan rapi sehingga bahkan dalam satu kali ulangan secara tersirat turut diceritakan bagaimana ulangan-ulangan sebelumnya gagal. Untuk sebuah film yang yang melibatkan perjalanan waktu, Edge of Tomorrow secara mengejutkan bisa memaparkan kisahnya dengan tak berbelit-belit dan tak berkepanjangan.

Hal lain yang membuat film ini memikat adalah dua karakter utamanya: William Cage yang diperankan Tom Cruise dan Rita Vrataski yang diperankan Emily Blunt. Akting Cruise, seperti biasa, selalu jempolan; Ia berhasil membawakan perkembangan karakternya dari orang biasa yang sebenarnya benci masuk ketentaraan dan ingin menghindari konflik, hingga menjadi prajurit tangguh yang rela berkorban nyawa untuk menyelamatkan dunia. Blunt juga sukses dalam menampilkan Rita Vrataski sebagai jagoan perang yang dingin, tertutup, serta punya konflik dan traumanya sendiri.

Berbeda dengan Oblivion yang dirilis di tahun sebelumnya, saya agak menyesal tidak menghargai Edge of Tomorrow dengan cara menontonnya di bioskop. Memang konsep ‘pengulangan satu hari’ bukan ide orisinil dari film ini, namun Edge of Tomorrow berhasil memberikan ciri khasnya sendiri melalui setting aksi fiksi ilmiah dengan cerita yang ramping dan akting para pemeran utama yang menawan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s