Ahok untuk Pilkada DKI 2017

Sekitar semingguan yang lalu istri pulang dari rumah orangtua saya dengan membawa dua berkas formulir. Rupanya itu formulir dari LSM Teman Ahok untuk mengumpulkan dukungan satu juta KTP agar Ahok -jika tidak dilirik partai- bisa maju sebagai calon independen pada pilkada DKI 2017; Tampaknya teman gereja orangtua saya ada yang menjadi relawan dan membagi-bagikan formulir itu ke teman-temannya untuk menambah jumlah dukungan yang saat ini baru mencapai seratus ribu KTP.

temanahok

Sebenarnya ada banyak yang ingin saya bahas mengenai Ahok dan gaya kepemimpinannya, tapi mungkin itu lebih baik dituliskan terpisah dalam gumunan lain. Ringkasnya: saya merasa ambivalen, antara suka dan tidak suka, dengan persona dan kebijakan Ahok sebagai gubernur. Maka saya juga agak bimbang apakah akan mengisi formulir dukungan itu juga, apalagi musim pilkada masih 2 tahun lagi.

Setelah beberapa hari menimbang dan mencari info, akhirnya saya memutuskan untuk mengisinya saja. Bukan berarti saya akan mencoblos Ahok nanti kalau ia tembus jadi salah satu kandidat calon gubernur DKI di pilkada 2017 nanti (kalau ada pilihan yang lebih baik, kenapa tidak?). Tapi saya teringat bahwa calon independen mulai dipersulit pendaftarannya untuk ikut berkompetisi dalam gelanggang politik.

Maka, meski saya kurang sreg dengan Ahok si gubernur, saya membubuhkan tanda tangan dan menyertakan fotokopi KTP untuk membuat…semacam pernyataan, mungkin. Bahwa seseorang bisa maju untuk menjadi pemimpin daerah tanpa harus terikat kontrak, mahar, atau janji-janji dengan elit politik. Bahwa mereka bisa ikut bersaing secara sehat dengan dukungan murni dari masyarakat tanpa perantara partai politik.

Jadi begitulah, Pak Ahok. Tanda tangan dan KTP saya untuk memudahkan anda bersaing di pilkada DKI 2017 nanti. Tapi ke mana coblosan saya, itu juga masih urusan nanti.

Saya jadi ingat bahwa di pilkada DKI 2012 lalu, saya memilih Faisal Basri dan entah-siapa-itu-wakilnya di putaran pertama; selain karena alasan yang sama, saya juga ingin anti mainstream saja berhubung waktu itu Jokowi-Ahok sudah sangat populer sehingga tidak terlalu butuh suara saya. Sayang Faisal Basri tak lolos ke putaran kedua…

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s