Film: Magic in the Moonlight (2014)

Sudah sering saya mendengar legenda tentang bagusnya film-film karya Woody Allen, sekaligus betapa overhyped film-filmnya dari orang-orang yang nyinyir. Maka ketika Magic in the Moonlight lewat di saluran TV kabel, sayapun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat dengan mata kepala saya sendiri.

Oke, mungkin saya harus agak berhati-hati dengan optimisme saya, tapi sulit untuk tidak berharap banyak karena kedua bintang utamanya adalah salah dua aktor dan aktris yang cukup berbobot dan saya gemari penampilannya: Colin Firth dan Emma Stone.

magicmoonlight

Premis ceritanya juga cukup memikat: Di awal abad ke-20, seorang pesulap panggung handal (Colin Firth) diajak menyamar oleh sahabat karibnya untuk membongkar trik seorang cenayang muda (Emma Stone) yang telah merebut hati seorang pewaris kerajaan bisnis tambang. Di benak saya langsung terbayang-bayang kisah penuh intrik antara si pesulap yang mengerahkan kemampuan deduksinya dengan si cenayang yang mencoba menyembunyikan rahasianya dengan cara apapun; ‘Duel’ kreativitas dan kecepatan tangan antara dua orang penipu yang menempuh jalan hidup yang berlawanan.

Oh, rasanya saya tidak bisa lebih dikecewakan lagi. Yang saya dapatkan malah kisah cinta monyet akhir pekan antara pesulap yang logis dan sinis pada kehidupan dengan cenayang happy-go-lucky yang lebih pantas jadi anaknya. Memang menjelang akhir film ada twist berkaitan dengan sulap yang menurut saya cukup brilian, tapi nada keseluruhan Magic in the Moonlight sepenuhnya adalah drama komedi romantis.

Saya tidak akan sekecewa itu jika ceritanya masih cukup bagus. Sayangnya, saya merasa Woody Allen gagal dalam menyampaikan kenapa mereka bisa jatuh cinta. Ya, memang ada montase mereka jalan-jalan, makan siang, dan berenang bersama, tapi hampir tidak ada dialog, gestur tubuh, atau adegan yang membuat si pesulap menjelang akhir film bisa menyimpulkan, “Saya jatuh cinta pada senyumannya.” Ada satu adegan yang sangat klise di pertengahan film: Mobil mogok, hujan deras, dan mereka basah kuyup berteduh di dalam observatorium seperti lagunya Panjaitan Bersaudara. Tapi itu saja tidak cukup.

Kekecewaan saya yang lainnya adalah akting Colin Firth dan Emma Stone. Firth memang tampil cukup meyakinkan sebagai pesulap yang dingin, begitu juga dengan Stone yang bisa membawakan peran cenayang. Sayangnya akting mereka berdua bagi saya terasa mentah begitu memasuki adegan romantis; Mereka tidak bisa menampakkan diri sebagai sepasang manusia yang diam-diam jatuh cinta pada yang lain, tapi tak bisa mengungkapkannya karena pelbagai tekanan sosial. Malah saya rasa Firth masih lebih ekspresif di film Kingsman, dan Stone juga lebih meyakinkan di Amazing Spider-Man.

Mungkin satu-satunya yang bisa menghibur saya di film ini adalah pengambilan gambar yang indah dan terasa pas merekam pesisir Paris Selatan di tahun 1920-an. Tapi secara keseluruhan Magic in the Moonlight terasa mengecewakan dan jauh dari harapan saya. Yang jelas, film ini membuat saya berhati-hati untuk menonton karya Woody Allen berikutnya, karena saya sudah tertipu olehnya ketika menonton film ini.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s