Amarah di Jalan

Baru-baru ini ada berita mengenai sebuah mobil di jalan tol yang ditembak dengan air gun oleh pengendara mobil lainnya. Begitu korban mengunggah pengalamannya berikut foto mobil pelakunya ke media sosial, ceritanya langsung viral, diangkat oleh media massa, dan polisi bergerak cepat menangkap pelakunya. Dibaca sepintas dari alasan pelakunya, ini tampaknya contoh yang jelas dari perilaku road rage.

lalulintasJelas saja kenapa khalayak ramai merundung si pelaku: Terlepas dari bagaimana pelaku merasa terpancing oleh perilaku korban (itupun dari klaimnya sendiri yang belum tentu benar), reaksinya yang berlebihan, berbahaya, dan nyata-nyata melanggar hukum tentu tidak bisa dibenarkan sama sekali. Argumen legal dan moralnya terang-benderang, hitam-putih. Open-and-shut case, istilahnya para penegak hukum di serial TV Amerika.

Masalahnya begini: Meskipun saya sungguh-sungguh enggan mengatakannya, saya harus mengakui bahwa saya sedikit bersimpati dengan si pelaku. Bersimpati dengan seorang maniak yang menembak mobil orang karena kesal, lapar, dan ingin memberi pelajaran.

Meskipun secara rasional tidak ingin, sulit bagi saya untuk tidak bersimpati secara emosional ketika hampir setiap hari saya memiliki amarah yang serupa. Bagi saya, kasusnya adalah pengendara motor yang melawan arus lalu lintas. Ini hampir setiap pagi dan sore saya temui ketika berangkat dan pulang kerja. Dan di tengah kemacetan yang tidak bisa diapa-apakan lagi, satu-satunya penghiburan saya adalah imajinasi.

Mungkin terdengar sangat brutal, tapi baru saya sadari sekarang bahwa saya perlu menuliskan imajinasi saya untuk katarsis: Seandainya saya punya kekuatan super untuk meledakkan kepala orang hanya dengan sekali pelotot, saya akan pelototi semua pengendara motor yang melawan arus itu. Sampai apa yang ada di atas leher mereka jadi semangka berbalut helm motor.

Atau kalau mood saya sedang agak ilmiah ketimbang klenik: Saya ingin di mobil saya tersembunyi sebuah senjata yang diam-diam bisa membidik dan menembak para pelawan arus itu tepat di ruang kosong di mana seharusnya otak mereka berada. Kadang-kadang, jika mood saya sedang baik, saya cukup membayangkan senjata EMP skala kecil yang bisa mematikan mesin motor mereka agar mereka celaka.

Lebih jarang lagi, jika mood saya begitu buruknya karena lapar dan letih, saya ingin sekali meminggirkan mobil saya ke sisi kiri jalan dan menerabas mereka semua begitu saja.

Berkhayal itu, kata orang, memang gratis. Dan perlu saya tambahkan, bebas penilaian orang dan tanpa risiko. Entah saya harus menyebut diri saya ciken atau waras karena masih bersumbu panjang dan tidak mengejawantahkan semua angan-angan liar itu seperti si pelaku penembakan. Biasanya setelah para pengendara sialan itu berlalu saya melakukan ‘pendinginan’ seperti yang pernah saya tulis di Dikuasai Kebencian.

Tapi ya besoknya, dan besoknya lagi, saya tidak kapok untuk berimajinasi hal yang sama. Jika suatu saat ada sosok misterius yang menawarkan saya satu pistol, seratus peluru, dan jaminan bahwa saya tidak akan ketahuan, akankah saya mewujudkannya?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s