Film: Godzilla (2014)

Saya tidak punya nostalgia apa-apa dengan ikon Godzilla, jadi saya menonton ini tanpa harapan apapun sebenarnya….oke, mungkin ada sedikit harapan bahwa film ini bisa sama menghiburnya dengan film kaiju/monster raksasa lain yang pernah saya tonton belum lama berselang: Pacific Rim. Yang saya maksud dengan menghibur, tentu saja, adalah aksi bertempurnya para raksasa di tengah kota dengan segala kehancuran yang menyertainya.

godzilla

Sayang harapan itu agak meleset. Nyaris sepertiga film lewat tanpa ada kemunculan monster raksasa sama sekali. Alih-alih, saya disuguhi drama keluarga. Ceritanya sih lumayan bagus, sayang hampir semua akting para pemerannya biasa-biasa saja, tak ada yang menggugah. Satu-satunya pengecualian adalah Bryan Cranston yang memerankan ayah dari Ford Brody;  Cranson betul-betul bisa menampilkan seorang suami dengan duka yang mendalam atas kematian istrinya, juga obsesi untuk mengungkap apa -atau siapa- yang menyebabkan kematian istrinya.

Di sepertiga bagian berikutnya, barulah Godzilla dan para monster mulai bermunculan. Tapi inipun jauh dari memuaskan, karena mereka:1) disorot hanya kakinya saja, 2) beraksi di malam hari, 3) entah terbang tinggi atau menyelam di laut, dan 4) minim interaksi satu sama lain. Yang banyak ditampilkan (dan dieksekusi dengan baik oleh sutradaranya) adalah dampak dari kehadiran mereka di pemukiman manusia serta ketidakberdayaan tentara manusia untuk menghalau mereka.

Barulah di sepertiga terakhir film saya disuguhi full showdown antara Godzilla dengan para monster lainnya di tengah kota San Fransisco. Berbeda dengan Pacific Rim yang aksinya cukup stylish dengan pendar neon ala animasi super robot Jepang, aksi Godzilla lebih gelap dan dramatis. Dilatarbelakangi awan tebal serta api dan asap dari gedung-gedung yang hancur, melihat Godzilla melawan monster raksasa lainnya seperti melihat dua awan badai bertemu. Di sini saya merasa sang sutradara berhasil menggambarkan esensi Godzilla, yaitu dasyatnya kekuatan alam yang tak terjangkau oleh akal manusia.

Dan, baru ketika saya mulai ternganga-nganga dengan penampilan Godzilla, film ini tahu-tahu sudah hampir selesai. Kecewa, tentu saja. Sepertiga terakhir film Godzilla mungkin lebih bagus dari keseluruhan aksi di Pacific Rim, tapi secara keseluruhan film ini mengulur-ngulur harapan penonton terlalu lama untuk melihat sang bintang. Ketika yang ditunggu-tunggu sudah hadir, Godzilla terasa seperti hanya mampir sebentar. Untuk para fans yang sudah menunggu lama, mungkin itu sudah cukup. Tapi buat saya, saya masih ingin sesuatu yang lebih mengenyangkan lagi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s