Resensi: Rush (2013)

Balap Formula 1 (dan olahraga balap pada umumnya) tidak pernah menarik perhatian saya. Bahkan untuk orang yang tidak suka olahraga sekalipun, menonton pertandingan badminton atau sepakbola masih memberi kenikmatan tersendiri; Setidaknya saya melihat perjuangan manusia-manusia berkompetisi untuk lebih baik dari yang lain. Tapi F1? Yang saya lihat hanya mesin-mesin hasil konstruksi puluhan orang yang adu cepat di sirkuit; Bagi saya sama menariknya seperti menonton rekaman kamera CCTV lalu lintas.

rush

Dengan latar belakang yang berlawanan dengan selera, Rush (2013) sejak menit pertama sudah mengunci perhatian saya. Sedari awal film ini sudah dengan ketat membingkai cerita besarnya: Kisah dua orang pembalap yang berbeda 180 derajat di dalam dan di luar lintasan, serta rivalitas mereka dalam meraih gelar juara dunia F1. Dengan berfokus pada drama antar-manusia ketimbang soal-soal teknis balapan, saya bisa lebih menikmati film ini meskipun awam mengenai balap F1.

Untungnya, Chris Hemsworth dan Daniel Bruhl berhasil memainkan peran mereka sebagai kedua tokoh utama Rush: pembalap James Hunt asal Inggris dan Niki Lauda dari Austria. Bruhl terutama sangat meyakinkan sebagai Lauda yang dingin dan metodis, sementara Hemsworth, meski saya sukar melepaskan aktingnya dari bayang-bayang Thor, juga cukup baik dalam membawakan karakter Hunt yang bertolak belakang: Jenius, flamboyan, dan suka hura-hura.

Yang lebih ‘mengangkat’ film ini adalah interaksi dan konflik antara kedua pribadi tersebut yang dijalin dengan baik oleh penulis skenarionya. Di bagian sepertiga pertama film, memang hal ini tidak begitu tampak karena Hunt dan Lauda masih diceritakan sendiri-sendiri dan belum banyak interaksi keduanya (dan ini membuat banyak hal diceritakan terburu-buru di bagian awal tersebut). Namun setelahnya, ceritanya jauh lebih menggigit begitu mereka berada di dalam lintasan yang sama.

Dari segi audiovisual, Rush juga cukup sukses menyampaikan daya tarik dan ketegangan balap kecepatan tinggi. Jauh lebih menarik dari siaran langsung F1, tentu saja, karena kali ini saya bisa melihat sudut-sudut pengambilan gambar yang hanya mungkin ada di dalam film fiksi. Tapi terlepas dari seberapa bagus visualnya, ceritanya yang memikat membuat saya merasa Rush pantas menjadi kandidat juara (sayangnya film ini malah tidak mendapat nominasi Oscar dalam kategori apapun).

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s