Resensi: Mama (2013)

Film pendek Mama mengejutkan saya sewaktu melihatnya pertama kali di YouTube. Hanya dalam durasi dua menit lebih sedikit, Mama berhasil menyampaikan cerita (meski secara implisit), ketegangan, twist, dan ending yang cukup lengkap. Saking ‘sempurna’nya film pendek ini, saya justru agak ragu ketika diumumkan bahwa Mama akan dikembangkan jadi sebuah film penuh. Meski diproduseri oleh Guillermo del Toro, saya tetap tidak yakin apakah intensitas yang saya alami selama tiga menitan itu bisa dinikmati kembali, tapi kali ini selama tiga puluh kali lipat durasinya.

mama

Hal pertama yang saya perhatikan dari Mama adalah visualnya yang jernih dan pengambilan gambarnya yang bersih, setidaknya jika dibandingkan dengan film-film horor pada umumnya yang gemar menggoyang-goyangkan kameranya. Makin lama menonton, saya makin sadar dengan keinginan si sutradaranya untuk benar-benar menampilkan sosok sang antagonis utama, Mama, secara utuh dan tidak sekelebatan saja seperti standar film horor lain.

Sayangnya, standar memang banyak digunakan orang karena seringkali efektif. Dalam hal Mama, ini membuat sang antagonis, setelah beberapa penampilan di awal, tidak begitu menyeramkan lagi secara visual. Apalagi dalam hal desain, Mama tidak begitu unik dibandingkan dengan hantu-hantu perempuan lain yang lebih tenar. Hal-hal yang dia lakukan sepanjang filmpun juga sebagian besar sudah pernah dilakukan sebelumnya, sehingga menjelang akhir film efek horor Mama sudah tidak begitu terasa lagi.

Karena unsur horornya yang agak kedodoran menjelang akhir film, secara keseluruhan cerita Mama pun juga sudah tidak begitu menarik lagi di bagian menjelang klimaks hingga penutupnya yang agak aneh. Padahal akting para pemerannya cukup bagus untuk ukuran film horor, terutama kedua anak kecil yang jadi bintang utama film ini.

Selesai menonton Mama, kekuatiran saya agaknya terbukti: Mama si film penuh tidak berhasil mempertahankan intensitas horor Mama si film pendek selama sejam lebih. Untuk fans film horor yang belum pernah menonton film pendeknya, mungkin Mama si film penuh termasuk layak ditonton, tapi saya rasa lebih baik menonton film pendeknya saja untuk mendapatkan esensi film ini tanpa harus membuang-buang banyak waktu.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s