Harga Mati

Referendum kemerdekaan Skotlandia beberapa waktu yang lalu mungkin terasa surreal bagi kebanyakan orang Indonesia. Termasuk saya, sedikit. Sejak kecil saya sudah diajarkan dalam Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) bahwa kemerdekaan yang hakiki diraih dengan darah dan airmata; Bahkan saya ingat bahwa peralihan kemerdekaan yang cenderung damai seperti di Malaysia agak direndahkan sebagai ‘pemberian penjajah’ yang akhirnya hanya menciptakan ‘negara boneka’.

 

referendum

Dan di sinilah kita, di tahun 2014, melihat sebuah ‘negara’ memutuskan merdeka atau tidak dengan meminta penduduknya memilih YES atau NO. Bukannya di sini tidak pernah juga; Ada PEPERA Papua Barat tahun 1969 dan Referendum Timor Timur tahun 1999, tapi keduanya tidak begitu bersih, entah karena ada indikasi kecurangan atau ada intimidasi kekerasan fisik. Sementara itu di Skotlandia, dari apa yang saya baca, referendumnya relatif bersih dan normal bak seperti pilkada biasa saja.

Lalu saya jadi teringat jargon yang seringkali dikumandangkan setiap kali ada tuntutan merdeka dari daerah-daerah, “NKRI harga mati!”

Harga mati? Setiap mendengar itu saya selalu merasa tidak nyaman. Pernyataan semacam itu seolah-olah menganggap bahwa diskusi mengenai format negara ini sudah ditutup, dan siapapun yang ingin membukanya kembali berarti mempertaruhkan nyawanya berhadapan dengan si pencantum harga mati itu. Kenapa harga mati? Entahlah, tapi saya beranggapan bahwa orang-orang yang memegang teguh nilai semacam itu tampaknya menempatkan kesakralan negaranya hanya setingkat di bawah kesucian agamanya.

Meskipun ini terdengar klise, menurut saya adagium ‘satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan’ masih berlaku, dan yang paling mampu bertahan adalah yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan itu. Dengan premis ini, rasanya memberi label ‘harga mati’ pada suatu institusi yang hidup dan terus berkembang adalah langkah yang kontraproduktif bagi kelangsungan institusi tersebut dalam jangka panjang.

Mungkin saya bukan nasionalis, karena saya rasa mestinya tidak ada yang tidak bisa didiskusikan atau diubah menyangkut negara ini. Amandemen UUD 1945, meski belum sempurna dan masih jauh dari selesai, adalah contoh awal yang bagus mengenai adaptasi konstitusi negara terhadap perubahan zaman. Bahkan kalau sampai mengubah Pancasila sekalipun? Saya juga setuju-setuju saja kalau memang ada yang lebih baik dari itu. Kenapa tidak?

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s