Resensi: Argo (2012)

Ben Affleck menyutradarai film serius? Film yang kemudian menyabet gelar Best Picture di Oscar 2013? Samar-samar saya masih ingat riuh-rendahnya percakapan mengenai kontroversi ini pada bulan Februari yang lalu, karena Argo berhasil mengalahkan film-film lain yang dianggap berkaliber lebih berat. Herannya waktu itu film ini cuma diputar sejenak di bioskop (seperti beberapa film nominasi Oscar lainnya), jadi saya belum sempat menyimaknya sampai film ini lewat di kanal televisi berbayar saya (begitulah pola menonton film saya belakangan ini).

argo

Menit-menit pertama Argo dimulai dengan penjelasan mengenai situasi geopolitik Iran di akhir tahun 70-an; Saya rasa ‘kultum’ ini cukup efektif dalam mendidik penonton yang belum familiar dengan latar belakangnya, sekaligus meletakkan mood yang pantas untuk memulai cerita: Bahwa situasinya sangat, sangat genting, dan dalam suasana yang penuh ranjau politik ini tidak ada pihak yang betul-betul hitam atau putih. Sayangnya eksposisi di akhir film malah jadi membuat kesimpulan Argo setali tiga uang dengan film-film aksi yang biasa: In the end, Americans saved the day.

Tapi yang membuat saya terpikat dengan film ini adalah ceritanya yang rapi dan bernas. Tak ada menit yang terbuang sia-sia, dan alurnya semakin lama semakin meninggi hingga klimaks tanpa ada jeda untuk menarik napas. Dari pertengahan sampai akhir, ketegangan yang saya rasakan mungkin mengalahkan sebagian besar film horor yang pernah saya tonton dan resensikan di sini. Untung skenarionya begitu bagus, karena akting Ben Affleck sebagai tokoh utama di sini hambar belaka; Minim rentang emosi, entah itu dari raut wajah atau cara bergerak dan berbicara.

Hal lain yang memikat saya adalah penyutradaraannya; Di sini saya akui nilai tambah Ben Affleck sebagai sutradara. Meski saya yakin film ini tidak dibuat di Iran, tapi pemilihan lokasi luar ruangnya betul-betul terasa seperti di Iran sungguhan (atau setidaknya seperti Iran yang saya lihat di media). Pemilihan desain interior dan pernak-pernik pakaiannya juga betul-betul memancarkan aura 70-an yang kental, tapi tidak terkesan norak (tidak seperti, misalnya, American Hustle) bagi saya yang belum lahir dan hidup di zaman itu. Semuanya memperkuat kesan otentik dari film ini.

Selesai menonton Argo, saya bisa memahami kontroversi yang ditimbulkan oleh film ini. Dan meski latar belakangnya cukup berat dan politis, tapi jalan ceritanya sendiri cukup ‘ringan’, dalam artian tidak banyak berkubang dalam drama eksistensi diri atau kritik sosial. Namun jalan cerita yang dijahit dengan sangat kuat inilah yang saya kira dihargai dengan begitu tinggi oleh para juri Oscar sehingga Argo ditahbiskan sebagai film terbaik tahun 2013.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s