Di Gerbang Keabadian

Tindakan bunuh diri mungkin termasuk salah satu hal yang tak terjangkau pemahaman saya, meski sudah begitu keras saya berusaha. Harus saya akui, dulu saya memiliki persepsi buruk mengenai mereka yang melakukannya. Meski tidak terang-terangan, dalam hati saya telah menyebut mereka pengecut karena memilih jalan pintas yang mudah untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup mereka, atau menganggap mereka egois karena meninggalkan keluarga dan teman-teman yang berduka sekaligus bertanya-tanya.

Kesalahan saya adalah berasumsi bahwa tindakan bunuh diri adalah hasil dari pengambilan keputusan yang dilakukan dengan sengaja, sadar, dan rasional.

Sorrowing Old Man ('At Eternity's Gate') - Vincent van Gogh (1890)
Sorrowing Old Man (‘At Eternity’s Gate’) – Vincent van Gogh (1890)

Untungnya sewaktu kuliah saya kemudian belajar banyak hal mengenai proses berpikir manusia. Bagaimana manusia seringkali -tanpa sadar- jauh dari rasio dalam berpikir, berbicara, atau bertindak. Apalagi ketika otak dijangkiti oleh kelainan biologis yang menyebabkan pelbagai gangguan mental yang belum bisa sepenuhnya disembuhkan permanen. Jika tidak ditangani dengan segera dan secara benar, banyak dari mereka yang memiliki gangguan mental kemudian merasa perlu untuk mengakhiri semuanya. Beberapa memutuskan untuk benar-benar melakukannya. Hanya sedikit yang tak kembali.

Tapi waktu itu saya merasa baru memahami tentang ‘bagaimana’-nya, bukan ‘kenapa’-nya.

Peristiwa bunuh dirinya Robin Williams baru-baru ini membangkitkan minat saya untuk memahami bagian kedua tersebut, kali ini lebih personal (lagipula saya juga sudah tidak sekuat dulu maraton membaca jurnal-jurnal ilmiah). Dengan kata kunci ‘suicide survivor story‘ di Google, saya membaca kisah para penyintas (survivor) yang pernah mencoba bunuh diri dan gagal, juga cerita dari perspektif keluarga atau pasangan hidup mereka yang ditinggalkan.

Setelah dua atau tiga cerita, energi dan emosi saya terkuras.

Saya sudah pernah beberapa kali mengalami keterpurukan yang cukup dalam. Tapi rasanya belum pernah saya merasakan nadir seperti yang digambarkan di dalam cerita-cerita yang saya baca itu: Di mana segalanya terasa tanpa harapan dan satu-satunya cara untuk merasa lega adalah dengan tidur tanpa pernah bangun lagi. Bahkan mereka yang tak sengaja bangun lagipun (entah karena ditolong dengan cepat, atau metodenya kurang tepat) tak seragam reaksinya. Ada yang menyesal merasa lega, tapi ada pula yang justru semakin putus asa dan semakin teguh untuk mencoba lagi.

Setelah semua ini, saya jadi lebih paham betapa peliknya keadaan mental dan lingkungan yang membuat orang-orang ini berpikiran untuk mengakhiri nyawanya. Juga bagaimana sistem kesehatan di negara mereka (dan juga di negara kita) masih menganaktirikan perawatan kondisi psikologis mereka, relatif jika dibandingkan dengan pengobatan untuk penyakit fisik.

Tapi apakah kemudian bunuh diri menjadi sesuatu yang bisa saya pahami? Rasanya belum; Kematian dan kabut yang ada di seberangnya adalah hal yang selalu membuat saya gelisah, dan sejauh ini tak ada keputusasaan yang mampu membuat saya tenang untuk memasuki, mengikuti apa yang disebut lukisan van Gogh di atas, gerbang keabadian.

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s