Resensi: Oblivion (2013)

Saya ingat Oblivion adalah salah satu film di tahun 2013 yang ragu-ragu ingin saya tonton atau tidak. Adanya Tom Cruise sudah lumayan membantu, tapi itu saja belum cukup (ini alasan yang serupa dengan kenapa tahun kemarinnya saya tidak menonton Jack Reacher). Pun trailer-nya yang saya tonton terkesan begitu generik dan tidak menggugah rasa penasaran saya untuk mengetahui ceritanya lebih lanjut (juga idem dengan trailer-nya Jack Reacher). Jadi ya sudah, waktu itu saya batal nonton dan sampai beberapa hari lalu tidak merasa kelewatan apa-apa. Untungnya penyedia TV berbayar saya sedang promosi selama sebulan membuka semua saluran, termasuk saluran film…

 

oblivion

Hal utama yang begitu menarik perhatian saya sejak menit pertama film ini adalah visualnya yang begitu ‘indah’, well, setidaknya indah untuk ukuran bumi yang telah dibumihanguskan dan kini gersang. Memang tema post-apocalyptic bukan setting yang baru nan orisinal, namun Oblivion mampu menampilkan lingkungan futuristik yang, meski bertema serupa, tapi terasa unik dan beda dengan film-film pendahulunya seperti Mad Max atau Book of Eli. In tak hanya terbatas pada lingkungan alam saja, namun juga sampai ke hal-hal kecil seperti interior ruangan, pakaian atau senjata yang dikenakan para tokohnya.

Dari sisi cerita, saya cukup lega karena Oblivion tidak se-aksi yang saya kira sebelumnya. Memang ada sejumlah adegan pertempuran, tapi semuanya kalah menarik dengan konflik batin dan keputusan-keputusan sulit yang harus diambil oleh karakternya Tom Cruise. Di sini akting Tom Cruise yang cukup baik sangat membantu, meski tidak terlalu spesial jika dibandingkan dengan peran-peran sebelumnya (lagi-lagi, seperti di Jack Reacher). Jadi kalau berharap film ini penuh ketegangan tanpa henti seperti, misalnya, Star Trek: Into Darkness, bersiap-siaplah untuk kecewa karena Oblivion lebih berfokus pada drama pencarian jati diri si tokoh utamanya.

Yang agak mengecewakan mungkin adalah twist-nya yang gagal sehingga tidak memberi efek kejut yang diharapkan. Di dalam film, sejak gambar pertama si karakter utama sudah curiga dengan mimpi-mimpinya yang aneh; Setelah ditambah dengan penjelasan yang menyatakan kalau ingatannya dihapus setiap lima tahun sekali, bahkan nenek-nenek jamuran pun tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Sementara itu di luar film, trailer-nya yang gencar diputar di berbagai stasiun televisi juga menampilkan beberapa karakter yang baru muncul setelah twist, sehingga karakter bertopeng yang tampak di awal film sudah kehilangan aura misterinya.

Setelah dipikir-pikir lagi, saya memang tidak kelewatan apa-apa seandainya waktu itu tidak jadi menonton Oblivion. Hampir semua elemen film-seperti cerita, audio, dan akting, kualitasnya di atas rata-rata film fiksi ilmiah lainnya, tapi juga tidak bagus-bagus amat. Mungkin hanya segi visualnyalah yang membuat film ini layak tonton, setidaknya di kanal film high definition di saluran TV berbayar.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s