Jokowobama

Sekali lagi, disclaimer sebelumnya berlaku: Seandainya tidak ada berita baru mengenai Jokowi-JK yang menggegerkan dunia persilatan, kemungkinan besar saya akan memilih Jokowi-JK pada pilpres mendatang. Untuk saat ini, segala materi kampanye yang sudah disampaikan belum dapat memindahkan pilihan saya ke capres lain atau membuat saya golput.

Tapi antusiasme yang luar biasa -dan saya lihat cukup murni- dari para pendukung Jokowi (terutama di akar rumput) sedikit menguatirkan saya. Apa yang terjadi pada Jokowi selama beberapa bulan belakangan ini mengingatkan saya pada apa yang terjadi pada Obama…and not in a good way.

obama

Secara garis besar, Mereka punya strategi pencitraan yang mirip (dan istilah ‘pencitraan’ bagi saya bukan sesuatu yang buruk). Dua-duanya membawakan diri sebagai orang baru yang masih segar dan belum ternodai dunia politik masa silam. Dengan bekal itu keduanya kemudian diposisikan sebagai harapan baru bangsanya yang bisa membawa perubahan yang dinanti-nantikan. Dan masyarakat dalam dan luar negeripun menyambut dengan gegap-gempita, merasa capres yang satu ini akan membuat dunia lebih baik.

Kita belum tahu mengenai Jokowi, tapi bagaimana dengan Obama setelah ia memenangkan pemilu? Sampai sekarang (hampir habis dua periode), kira-kira hanya 45% janji yang telah ia realisasikan sepenuhnya, sementara sisanya harus dikompromikan atau belum ada kemajuannya. Tidak buruk memang, tapi untuk para pendukung Obama yang berharap Amerika Serikat jadi protagonis, janji-janji yang tidak belum dipenuhi itu terasa mengecewakan.

Dalam beberapa hal, ‘inovasinya’ justru lebih mengerikan karena dilakukan dalam senyap. Obama memang telah menarik banyak pasukannya dan tidak lagi membuka front perang baru, tapi sebagai gantinya ia mempopulerkan pesawat tak berawak yang sudah menewaskan ribuan orang, ratusan di antaranya rakyat sipil. Belum lagi dengan kontroversi program penyadapan masif yang dilakukan NSA juga terjadi di bawah kepemimpinan Obama.

Pada akhirnya, 33 persen masyarakat AS dalam sebuah survei terbaru menilai Obama sebagai presiden terburuk semenjak Perang Dunia II.

Tentu Jokowi nanti belum tentu akan ‘bernasib’ seperti Obama sekarang. Tapi kalau melihat ke belakang, Obama si capres yang idealis dan pembaharu itu ternyata tetap berakhir seperti presiden Amerika Serikat pada umumnya. Sebaik apapun niatnya, ternyata seorang Obama belum mampu membongkar-pasang mesin politik yang sudah berurat berakar selama ratusan tahun; dan bahkan untuk sejumlah kasus, ia ikut terseret dalam jalannya roda-roda mesin politik itu.

Akankah Jokowi lebih sukses daripada Obama dalam memperbaharui tatanan pemerintahannya? Mungkin saja, apalagi Jokowi, dibanding Obama, lebih berpengalaman dalam pemerintahan eksekutif. Tapi melihat bagaimana sekarang Jokowi bergumul dengan rumitnya permasalahan Jakarta, saya tidak akan kaget jika nantinya Jokowi akan lebih terengah-engah melayani satu Indonesia.

Jika kita berharap pada Jokowi seperti banyak rakyat AS berharap pada Obama di 2008 dulu, niscaya kita akan kecewa. Bukan berarti tidak boleh berharap, tentu saja, tapi menumpukan sebegitu banyak harapan di pundak satu orang rasanya seperti melepaskan tanggung jawab masing-masing dari kita, setiap individu, untuk setidaknya memimpin diri sendiri dalam menciptakan negeri yang lebih baik.

Lagipula, cuma mesias yang patut dimandatkan segala iman dan harapan. Dan di dunia yang penuh pencitraan ini, tidak ada yang bisa memastikan siapa mesias dan siapa tiran sampai kita memberi mereka kekuasaan.

NB: Bahkan sesudah melihat kinerjanya selama dua periode ini, saya tetap lebih memilih Obama dua kali ketimbang McCain atau Romney.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s