Menimbang-nimbang Jokowi-JK

Sebelumnya, sebuah disclaimer: Seandainya tidak ada berita baru mengenai Jokowi-JK yang menggegerkan dunia persilatan, kemungkinan besar saya akan memilih Jokowi-JK pada pilpres mendatang. Untuk saat ini, segala materi kampanye yang sudah disampaikan belum dapat memindahkan pilihan saya ke capres lain atau membuat saya golput.

Dan dengan disclaimer di atas sebagai pembuka, apa yang akan saya tulis berikutnya ini mungkin lebih terdengar seperti ’50 alasan untuk tidak memilih Jokowi-JK’ atau ‘menimbang-nimbang yang-bukan-Prabowo’, tapi saya mungkin hanya ingin menyuarakan beberapa kekuatiran saya mengenai pasangan ini dan menunjukkan bahwa dukungan sementara saya pada mereka bukannya tanpa reserve atau catatan kaki.

jokowijk

Pertama, mengenai amanah. Saya mungkin termasuk yang cenderung setuju bahwa Jokowi tidak amanah dalam menjalankan jabatannya karena sudah keburu loncat ke tempat lain. Seandainya PD mengajukan pemenang konvensi mereka sebagai capres ketiga, mungkin saya akan memilih dia di atas Jokowi. Tapi kenyataan politiknya berbeda, dan Jokowi masih lebih mendingan dibanding capres lain yang, saking tidak amanahnya dengan sumpah jabatan, akhirnya dipecat diberhentikan dengan hormat oleh atasannya.

Yang kedua adalah gaya kerja. Saya juga termasuk yang cenderung setuju dengan Fadli Zon (eurgh!) bahwa Jokowi, seperti layaknya Risma, bekerja selayaknya seorang middle manager. Untuk level Solo atau Jakarta mungkin gaya semacam ini tergolong cukup efektif dan efisien, tapi saya ragu apakah ritme yang serupa bisa diterapkan dalam menjalankan tugas-tugas kepresidenan. Lagi-lagi, preferensi saya untuk aspek ini adalah pemenang konvensi PD. Saya lebih memilih orang yang -setidaknya- berpengalaman menaklukkan birokrasi sipil dengan pendekatan yang juga sipil ketimbang orang yang hampir seluruh karir profesionalnya dilatih dan terlatih dalam memberikan komando militer.

Lalu ada masalah pelanggaran HAM. Sepintas, mungkin ini adalah keunggulan telak bagi Jokowi dibanding pesaingnya. Namun saya cukup cemas dengan merapatnya sejumlah purnawirawan Jenderal Orde Baru ke kubu Jokowi. Kejahatan HAM Orba terbentang selama 30 tahun lebih dan tak terbatas pada 1998 saja. Kalau Prabowo yang jadi anaknya bos besar saja ‘begitu’, tak mungkin orang-orang macam Wiranto, Sutiyoso, atau Hendropriyono tangannya betul-betul bersih. Maka saya cukup pesimis juga akan tuntasnya pengungkapan pelanggaran HAM rezim Orba meskipun Jokowi yang menjadi presiden. Mungkin ini pressure point yang harus terus-menerus ditagih oleh rakyat nantinya.

Dalam proses mempertimbangkan preferensi politik, tiga hal mungkin terlalu singkat; Rasanya masih ada beberapa hal lain sih, tapi tiga hal di atas kiranya masuk dalam ‘masalah’ utama saya. Pada akhirnya saya harus memilih orang yang masa lalunya lebih mengarah pada masa depan Indonesia yang saya inginkan, dan tahun ini pilihan saya jatuh pada Jokowi-JK.

Sumber gambar: jusufkalla.info

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s