Resensi: Maleficent (2014)

Cerita Sleeping Beauty, meski saya belum pernah menonton film kartunnya atau full membaca dongeng aslinya, rasanya sudah terlalu familiar di telinga saya. Maka ketika saya mendengar ada film Maleficent ini, saya agak tertarik juga meskipun ada sedikit skeptisisme.

Beberapa tahun belakangan ini, tampaknya sedang trendi untuk memodifikasi kisah-kisah klasik; Misalkan saja Snow White and the Huntsman, Hansel and Gretel: Witch Hunters, atau Red Riding Hood. Semuanya tidak begitu mengesankan, kecuali jadi membludaknya adegan-adegan aksi yang lebih terasa bau Hollywood. Apakah Maleficent, yang dibuat oleh studio yang sama (Disney) dengan yang membuat film dasarnya (Sleeping Beauty (1959)), juga mengalami nasib yang sama?

maleficent

Untungnya, tidak separah itu. Memang ada sejumput adegan aksi citarasa Hollyowood di awal dan pertengahan film yang saya rasa kurang perlu, tapi secara keseluruhan Maleficent masih menjaga nuansa cerita dongeng fantasinya, meski memang lebih gelap. Mungkin yang agak mengganggu saya adalah ending-nya. Terlepasnya Aurora dari kutukan (nope, that shouldn’t be a spoiler by now) mestinya bisa menjadi penutup yang manis dari film ini, tapi entah mengapa si penulis naskahnya merasa perlu untuk menambahkan klimaks berupa adegan aksi yang penuh citarasa Hollywood.

Secara visual, Maleficent saya kira cukup standar lah…tipikal film-film fantasi beranggaran besar pada umumnya. Dan tentu saja bintang yang bersinar paling terang di sini adalah akting Angelina Jolie yang memukau sebagai sang karakter tituler. Jolie benar-benar bisa menampilkan citra seorang tokoh jahat yang juga penuh dengan emosi yang rumit. Sayang ia tidak dapat diimbangi oleh para pemeran lain yang aktingnya terasa biasa-biasa saja.

Maleficent saya rasa termasuk dalam sedikit film yang berhasil mendaur ulang dongeng klasik menjadi sesuatu yang baru; Tidak hanya soal cerita dan penokohan, tapi juga pesan-pesan moral yang bisa didapat setelah menonton film ini. Meski agak suram dan ada beberapa adegan aksi yang cukup intens (tanpa darah sih..), saya tetap yakin untuk menahbiskan Maleficent sebagai film yang layak saya tonton bersama anak saya (nanti kalau punya).

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s