Resensi: Dark Skies (2013)

Ada yang bilang kalau setengah dari keseruan menonton film horor itu adalah atmosfer eksternalnya: Gelap (apalagi kalau sudah malam), sunyi senyap kecuali sound system yang menggelegar, dan sensasi menonton sendirian atau bersama sedikit significant other. Dengan suasana yang mendukung, maka film horor yang agak jelekpun jadi terasa menyeramkan.

darkskies

Mungkin itu sebabnya kenapa hampir semua film horor yang saya resensikan di sini terdengar bagus meski di luar sana mereka dihina dina oleh para kritikus maupun penonton. Atau mungkin saya saja yang ciken dan gampang ditakut-takuti. Anyway, satu lagi film horor yang lewat di kanal TV berbayar saya adalah Dark Skies, sebuah film horor tahun kemarin yang tidak ditanggapi dengan baik oleh pasar.

Hampir dari segala sisi, Dark Skies adalah film horor standar dengan segala elemen yang hampir pasti kita temui di film ber-genre serupa: Rumah yang diganggui oleh kejadian tak terjelaskan, anak kecil yang memiliki teman yang tak kelihatan… hanya saja alih-alih menimpakannya pada arwah penasaran atau kuasa jahat, film ini menahbiskan peran antagonisnya kepada…alien. Dan bukan sembarang alien, tapi para Grey yang ikonik.

Seharusnya tokoh antagonis yang agak berbeda ini bisa membuat Dark Skies punya pembeda yang unik dibanding film-film horor lainnya, tapi nyatanya tidak. Dan inilah yang membuat saya merasa bahwa, meskipun film ini menakutkan saya, tapi tetap saja Dark Skies bukan sebuah film horor yang bagus. Alien yang tingkah polahnya seperti hantu atau setan di film-film lain terasa kurang masuk di akal (setidaknya menurut logika film horor), dan film ini secara eksplisit menolak untuk menjelaskan motivasi para alien itu.

Satu-satunya penyelamat Dark Skies mungkin cuma penyutradaraannya. Dengan cerita yang terbatas secara kualitas dan kemampuan akting para pemerannya yang biasa saja, setidaknya sang sutradara masih berhasil meramu bahan-bahan yang substandar itu menjadi sesuatu yang lumayan menyeramkan. Tapi, yah, mungkin bagi saya separuh lebih dari ‘lumayan’ itu karena faktor atmosfer eksternalnya belaka.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s