Resensi: Dream House (2011)

Huh…wow. Dream House benar-benar film yang tak disangka-sangka. Dengan melihat sinopsis dan gambar di sampul DVD-nya, saya mengira kalau ini adalah film horor rata-rata mengenai sebuah keluarga (yang punya anak kecil, tentu saja) yang baru pindah ke sebuah rumah tua; Ternyata rumah tersebut dulu pernah menjadi lokasi pembunuhan dan kini arwah yang mendiami rumah itu mulai mengganggu keluarga baru ini. Kalau di Indonesia biasanya diakhiri dengan kiai yang merapal ayat-ayat suci untuk mengusirnya.

Dream House

Tapi…wow, saya masih geleng-geleng kepala akan bagaimana Dream House dengan subtilnya membajak kerangka berpikir saya. Memang awalnya saya sempat heran dengan akting Craig, Weisz, dan Watts yang agak ‘aneh’. Juga dengan hilangnya beberapa detail yang biasa ada di film horor, dan betapa sinematografinya jarang memunculkan atmosfer mencekam dalam setiap adegan.

Namun di pertengahan film, semuanya menjadi terang benderang. Ini juga tidak umum, karena di film-film horor biasapun, pencerahan selalu datang menjelang akhir cerita. Bagian awal film yang tadinya terasa kabur kini menjadi jelas; Mungkin harapan saya untuk mendapati sesuatu yang menyeramkan di film ini tidak terpenuhi, tapi cerita yang menikung tiba-tiba membuat saya kembali tertarik ke dalam film sebelum sempat bisa merasa kecewa.

Apakah pencerahan di tengah film merupakan langkah yang cerdas? Mungkin saja, jika jalinan-jalinan cerita yang belum selesai masih dapat menarik saya untuk tetap menyimak filmnya. Sayangnya Dream House gagal menjaga perhatian saya. Setelah cerita menikung di pertengahan, alur cerita selanjutnya terasa datar dan hambar karena saya tidak merasakan thrill dan suspense yang (seharusnya) tersisa setelah unsur horornya memudar.

Menurut saya, Dream House adalah salah satu contoh film dengan ide cerdas, namun gagal dalam eksekusinya. Seandainya cerita di paruh kedua filmnya bisa dibangun dengan lebih intens, mungkin film ini bisa masuk dalam jajaran film-film horor/thriller terbaik sepanjang masa. Tapi kenyataannya, Dream House termasuk salah satu film yang paling mengecewakan bagi saya karena potensinya yang disia-siakan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s