Resensi: Sherlock S03E01 – The Empty Hearse (2014)

Rasanya saya harus memberikan resensi untuk serial ini secara keseluruhan terlebih dulu: Sherlock mungkin adalah salah satu dari serial TV terfavorit saya dekade ini. Formatnya yang unik (3 episode per seri, dengan masing-masing episode berdurasi hampir 90 menit) membuat setiap episode benar-benar mengeksplorasi kedalaman para karakternya, sekaligus membuat cerita setiap seri secara keseluruhan relatif ‘langsing’, bebas dari embel-embel yang dirasa kurang perlu.

emptyhearse

Tapi yang membuat kualitas Sherlock membumbung tinggi di atas serial TV lainnya adalah naskah, akting, dan sinematografinya. Setting London abad ke-19 kini diperbaharui menjadi abad ke-21 dengan segala kemajuan teknologi dan dinamika sosial yang baru, namun Sherlock tetap hormat dengan segala referensi klasik cerita Sherlock Holmes yang asli…kecuali sejumlah unsur dan twist yang dengan sengaja dibuat berbeda, sehingga fans setia Sherlock Holmes tidak merasa bosan dengan satu lagi interpretasi yang baru ini.

Untuk eksekusinya, kedua pemeran utama Sherlock, Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman, menampilkan akting terbaik mereka sebagai Holmes dan Watson modern. Chemistry antar keduanya yang diceritakan Sir Arthur di atas kertas kini bisa ditampilkan secara alamiah di layar kaca dalam setiap interaksi mereka, sehingga bahkan untuk satu-dua episode di mana kasusnya biasa-biasa saja, kita masih ingin menonton karena sisi dramanya tetap selalu menarik untuk disaksikan.

Nah, kini setelah setahun lebih hiatus setamat seri kedua, Sherlock kembali (literally) untuk seri ketiganya. Untuk fans baru, memang disarankan untuk menonton seri-seri sebelumnya terlebih dahulu (paling tidak  seri keduanya), karena The Empty Hearse berkaitan erat dengan episode terakhir seri terdahulu: Ia adalah ‘jawaban’ dari penantian, pertanyaan, dan spekulasi para fans mengenai nasib Sherlock Holmes. Tanpa konteks, pembuka seri ketiga ini mungkin akan terasa biasa-biasa saja.

Tapi untuk para fans, The Empty Hearse adalah jawaban yang memuaskan. Mungkin saking berusaha memuaskan hasrat fans yang ‘digantung’ selama hampir dua tahun, unsur drama lebih mendominasi episode ini, sementara unsur misteri dan deteksinya terkesan baru terpikir belakangan, pun terasa kurang orisinil; Saya pernah menonton sebuah film modern yang bertemakan Gunpowder plot, maka begitu melihat bahwa episode ini di-setting menjelang perayaan Guy Fawkes, saya langsung bisa menebak solusi misteri dan ke mana ceritanya akan mengarah.

Tapi ya itu tadi seperti yang saya bilang, bahkan ketika kasusnya tidak begitu menarik, saya tetap ingin bertahan menonton sampai habis untuk melihat akting Benedict Cumberbatch yang begitu mempesona sebagai Sherlock dan Martin Freeman yang sangat simpatik sebagai John Watson. Seperti biasa, chemistry dalam interaksi keduanya begitu kental terasa, dan bahkan naskah dan penyutradaraannya tetap bisa memunculkan chemistry itu meskipun keduanya tidak di dalam satu adegan yang sama.

All in all, The Empty Hearse bagi saya adalah pembuka yang cukup spektakuler bagi seri ketiga Sherlock. Meski kasus dan deteksinya sendiri tidak begitu mengesankan, tapi itu terbayar dengan naskah yang kuat dari sisi drama dan pengembangan karakter, akting yang kuat dari para pemeran utama dan pembantu, serta sedikit teaser mengenai tokoh antagonis utama yang akan datang. Yang agak mengecewakan saya adalah ketika tersadar bahwa tinggal dua episode lagi sebelum saya dan para fans ‘digantungin’ lagi…

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s