Dikuasai Kebencian

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seseorang yang amat sangat tidak saya sukai di sebuah acara umum. Latar belakangnya panjang; Singkat ceritanya orang ini memiliki utang yang cukup besar kepada saya, dan sejauh ini tak ada itikad baik darinya untuk melunasi. Problemnya, saya susah untuk bersikap tegas karena orang ini menempati status sebagai ‘yang dituakan’ di lingkungan.

benci

Waktu itu adalah pertama kali saya melihatnya setelah tidak ada kontak setelah sekian lama. Masalahnya sendiri sebenarnya sudah hampir saya lupakan dengan pasrah (catatan: bukan ikhlas) karena, selain banyaknya faktor di luar kendali yang menyulitkan, masih banyak juga urusan lain yang lebih penting dan mendesak dari ‘mengemis-ngemis’ sesuatu yang seharusnya menjadi hak saya.

Tapi begitu melihat orang itu, seketika saya diliputi oleh kekejian yang amat sangat. Di dalam kepala saya segera tergambar serangkaian skenario penyiksaan fisik, mental, dan sosial yang bahkan takkan tega saya terapkan pada Hitler. Selama beberapa menit bisa dibilang saya ‘gelap mata’; Untungnya super-ego saya cukup kuat yang menjaga agar hawa-hawa jahat itu tetap berada di dunia ide.

Sampai pada suatu titik saya tersadar: Apa hasilnya dari saya berpikiran begitu? Untuk beberapa saat memang coping emosional seperti itu memang sangat, sangat memuaskan, tapi setelah itu…apa? Energi saya jelas terkuras, secara psikologis saya merasa sangat capek setelah aktivitas mental yang begitu intens  dengan muatan emosi yang sangat negatif…sementara orang yang menjadi ‘korban’ tidak merasa apa-apa karena ia tak tahu apa yang sedang saya pikirkan.

Berhubung acaranya adalah misa malam natal dan saya -juga dia- sibuk terlibat dalam acara itu, tidak banyak interaksi yang bisa dilakukan. Akhirnya saya cuma bisa memohon kepada Tuhan, kira-kira seperti ini: Ya Tuhan, janganlah biarkan saya dipengaruhi oleh kekejaman yang membabi buta seperti tadi. Kalaupun saya harus melakukan hal-hal buruk yang kurang terpuji terhadapnya, setidaknya buatlah saya melakukannya dalam suasana hati yang penuh suka cita. Amin.

Iklan

One comment

  1. […] Berkhayal itu, kata orang, memang gratis. Dan perlu saya tambahkan, bebas penilaian orang dan tanpa risiko. Entah saya harus menyebut diri saya ciken atau waras karena masih bersumbu panjang dan tidak mengejawantahkan semua angan-angan liar itu seperti si pelaku penembakan. Biasanya setelah para pengendara sialan itu berlalu saya melakukan ‘pendinginan’ seperti yang pernah saya tulis di Dikuasai Kebencian. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s