Resensi: Apollo 18 (2011)

Saya tidak pernah terlalu suka teknik found footage sebagai tema visual sebuah film. Belum tentu tidak suka dengan filmnya sendiri; Kalaupun suka, nilainya mungkin turun sedikit karena gimmick itu.

Bukannya apa-apa: Saya jadi pusing karena gerakan kameranya yang seringkali tidak stabil untuk meniru efek shot kamera yang direkam secara spontan dan amatiran. Belum lagi justifikasi yang kadangkala konyol mengenai mengapa ada kamera itu dan mengapa tokoh utamanya terus merekam meskipun sedang berada di tengah marabahaya.

apollo-18-movie-image-01.jpg

Nah, Apollo 18 ini mungkin adalah salah satu film berteknik found footage yang paling bisa saya tolerir. Premisnya sejak awal sudah jauh lebih menarik: Apollo 18 adalah dokumentasi misi Apollo yang dirahasiakan oleh pemerintah AS, yang kemudian berakhir buruk sehingga mereka tak pernah menjejakkan kaki ke bulan lagi. Jelas lebih mengulik rasa ingin tahu ketimbang sekelompok anak muda yang sedang bertualang dan iseng merekam semuanya dengan handycam.

Gaya dokumentasi yang otentik dan menjadi kekuatan utama film ini. Menonton Apollo 18 ibaratnya seperti menonton sebuah film dokumenter tahun 70-an dengan tampilan yang sangat jadul dan gambar yang sudah pucat dan berbayang layaknya slide film lama: Semuanya menjaga suspense of disbelief saya bahwa ini semua memang benar-benar rekaman film yang ditemukan dan bukannya bikin-bikinan dengan aktor dan set studio.

Dengan gaya yang kuat itu, atmosfer yang mencekam juga dapat dibangun dengan baik. Sejak awal kita sudah diberitahu bahwa misi Apollo 18 ini akan berakhir buruk, sehingga atmosfer penceritaan yang cenderung formal dan prosedural memberikan rasa bertanya-tanya yang penuh suspense: When things will go wrong and all hell break loose?

Dan ketika misteri yang sudah membayangi sejak awal film mulai terkuak, seperti layaknya pakem film found footage lainnya, rasa penasaran-campur-cemas berganti dengan rasa panik ketika para karakter kita menyadari apa yang sedang terjadi dan mulai ketakutan setengah mati. Di sini saya rasa akting mereka cukup realistis dan natural, hanya saja agaknya sang sutradara dan penulis skenario kurang mengeksplor kenapa setting luar angkasa membuat segala sesuatunya lebih buruk (sesuatu yang berhasil digambarkan sangat baik oleh film Gravity).

Secara keseluruhan, menurut saya Apollo 18 adalah sebuah alternatif segar, meskipun tidak terlalu seram, buat mereka yang suka (dan mungkin sudah agak bosan) dengan film-film bertema found footage seperti Paranormal Activity. Hanya saja, mungkin dibutuhkan minat yang lebih mendalam mengenai luar angkasa dan program-program antariksa untuk bisa benar-benar menyukai film ini.

Iklan

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s