Artaban

Bethlehem, tiga hari kemudian. Artaban berjalan sendirian menyusuri jalan yang lengang, seolah bersiaga menghadapi kengerian yang akan datang. Tapi pada saat itu sang majus hanya ingin menemukan sesuatu. Kepada seorang ibu yang menidurkan anaknya, ia bertanya: adakah ibu melihat tiga orang bijak pernah ke kota itu. Juga sepasang suami istri dan anaknya yang baru lahir tiga hari yang lalu. Sang Raja atas orang-orang Yahudi. Mesias yang ia cari. ”Ah, tapi mereka telah pergi secepat mereka ke sini. Suami istri dan bayinya juga diam-diam pergi pada malam yang sama ke padang Mesir yang jauh. Dan sejak itu kutuk seolah membayangi Bethla, seperti ada yang jahat yang akan menimpa atasnya.”

padang

Lalu teror pun tiba, tanpa visi dari para malaikat seperti yang terjadi pada pasangan Nazareth yang bermimpi. Baris-baris tentara Herodes berderap masuk kota, membunuhi yang menjadi target mereka: semua bayi laki-laki yang dicurigai sebagai sang putra yang diurapi. Adakah ia pada saat itu juga menggugat ketidakadilan Tuhan, bersama para ibu dan bayi yang kesepian?

Nampaknya tidak. Artaban adalah orang yang setia dalam perjalanan. Dalam ”The Story of the Other Wise Man”, Henry van Dyke, seorang pendeta presbiterian, menuturkan kembali legenda mengenai orang majus keempat yang begitu ingin menemukan seorang penyelamat. Namanya Artaban, putra Abgarus dari kota Ekbatana, orang Median. Dengan tiga majus lainnya, ia berencana untuk mengikuti bintang yang diramalkan Nabi Daniel ke arah Jerusalem, membawa safir, rubi, dan mutiara –seluruh harta kekayaannya, untuk diberikan kepada Ia yang dinubuatkan.

Artaban, Artaban. Tidakkah usahamu akan sia-sia, mencari sesuatu yang belum tentu nyata? ragu Abgarus. ”Tidak, ayah,” tutur Artaban, ”Iman yang nihil dari harapan adalah layaknya sebuah mezbah yang tak memiliki api sembahan. Dan api itu kini menyala-nyala terang dalam hatiku, tak terpadamkan.”

Dengan iman yang sama pula Artaban berdoa ketika menghadapi seorang yang meregang nyawa di tepi Babilonia. Jika ia terus berjalan, ia akan dapat menyusul tiga magus lainnya di tempat yang telah ditentukan. Jika ia berhenti dan merawat orang ini, harapan yang ia imani mungkin akan perlahan-lahan meredup dan mati. Tuhan yang Mahabenar dan Mahamurni, doa Artaban, tunjukkanlah aku jalan yang suci, jalan kebijaksanaan yang hanya Engkau ketahui. Artaban kemudian berbalik melawat orang itu.

Darinya ia mendapat petunjuk: Di tanah Bethlehem di negeri Yudea, sang Mesias akan lahir di sana. Artaban bergegas, namun ia telah ditinggalkan oleh ketiga temannya. Agar dapat melintasi padang gurun Persia dengan selamat sendirian, Artaban terpaksa menjual batu safirnya untuk membeli unta dan perbekalan. Dalam doanya di kemudian hari, ia mengutuki diri: Ya Tuhan yang Mahabenar, ampunilah dosaku! Aku telah memberikan untuk manusia apa yang seharusnya kuberikan kepada Tuhanku. Masihkah aku diperkenankan untuk menatap wajahMu? Sedikit yang ia tahu, bahwa sisa hidupnya akan dihabiskan untuk sebuah peziarahan iman.

Tidakkah engkau lelah mencari, Artaban? Tidakkah engkau ingin kembali? Hanya sedikit pertanda yang menuntun ke arah tujuannya. Seorang rabi yang ia temui di Aleksandria menuturkan kembali dari Taurat mengenai apa yang akan dialami sang Raja: penolakan dan penghinaan oleh manusia, lalu kesedihan, penderitaan, hingga kematian. Ia akhirnya berkata, “Raja yang kau cari takkan kau temui di dalam istana, di antara yang kaya dan berkuasa. Tapi ini aku tahu: mereka yang mencari Sang Raja akan menemuiNya di antara yang miskin dan lemah, yang tertindas dan menderita.”

Maka selama tiga puluh tiga tahun kemudian, Artaban menjelajahi negeri-negeri. Ia menghampiri mereka yang kelaparan dan tidak memiliki roti, mereka yang terkena wabah penyakit dan menunggu kematian dalam sendiri, mereka yang tertindas dalam penjara bawah tanah dan menjadi budak imperium Romawi. Dalam dunia yang menyedihkan itu, ia memang tidak menemukanMu, tapi ia menemukan banyak yang harus ia bantu. Adakah ia telah melupakan pencarian yang ia imani dulu, adakah api yang menyala-nyala dalam hatinya kini hanya menyisakan abu? Ada akhir dari kisah ini yang cukup membahagiakan, namun dalam satu kalimat dapat kita katakan: Ia ternyata benar.

Who seeks for heaven alone to save his soul,
May keep the path, but will not reach the goal;
While he who walks in love may wander far
Yet God will bring him where the blessed are.
– Henry van Dyke

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog pribadi yang kini sudah tidak aktif, 21 Desember 2006

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s