Resensi: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)

Sedikit disclaimer sebelum melanjutkan: Saya belum pernah membaca bukunya J.R.R. Tolkien, jadi saya tidak akan membahas mengenai seberapa berhasilkah Peter Jackson mengangkat buku The Hobbit ke layar lebar atau seberapa patuhkah ia dengan kanon yang ada di buku itu ataupun buku-buku bertema Middle-Earth yang lain. Namun saya sudah menonton The Lord of the Rings, juga bagian pertama dari trilogi The Hobbit tahun lalu, jadi mungkin ada beberapa hal dari sana yang akan saya referensikan di sini…

desolationofsmaug

…seperti bagaimana saya hampir tidak ingat apa saja yang terjadi di An Unexpected Journey tahun lalu, kecuali bagian awal yang cukup lucu di Shire. Setelah menonton Desolation of Smaug, saya baru sadar mengapa: Cerita utama setipis kertas yang ditambal beberapa cerita sampingan yang tidak begitu menarik, dan secara keseluruhan para pemerannya tidak ada yang chemistry-nya sekuat ensemble cast-nya LOTR.

Di Unexpected, menurut saya Martin Freeman adalah satu-satunya pemeran yang bisa membuat film itu lebih ‘berwarna’ dari sisi emosional; Oke, mungkin Andy Serkis juga. Para kawanan kurcaci itu, sebaliknya, sangat tidak memorable; Lucu mungkin, tapi hanya sebatas itu. Bahkan Ian McKellen juga sangat biasa-biasa saja, malah agak terlalu serius.

Di Desolation, Freeman lagi-lagi memberikan penampilan terbaiknya, relatif dibanding pemeran lain. Hanya saja mungkin tidak ada sesuatu yang baru kalau anda sudah pernah melihatnya di Hitchhiker’s Guide to Galaxy atau serial Sherlock: A clumsy yet lovable dork. McKellen dan kawanan kurcaci juga lagi-lagi biasa-biasa saja, tapi yang menjadi kelebihan Desolation dibanding Unexpected adalah satu: Benedict Cumberbatch.

Bagi saya Cumberbatch benar-benar mencuri perhatian sebagai Smaug sang naga. Meski secara visual dia hanyalah sebuah grafik bikinan komputer, namun Cumberbatch benar-benar piawai ‘berakting’ hanya dengan suara saja. Dengan penekanan suara saja, Cumberbatch mampu menampilkan karakter Smaug dengan kuat sebagai antagonis utama, meskipun di atas kertas naskah tokoh ini ‘seharusnya’ cukup dangkal saja (naga yang mengumpulkan harta kekayaan di sarangnya, apa lagi?).

Dari sisi cerita, lagi-lagi saya merasakan kisah yang ‘seharusnya’ (dalam tanda kutip, karena saya tak tahu persis bagaimana di bukunya) pendek tapi dipanjang-panjangkan dengan beragam adegan aksi dan subplot, mungkin dipaskan agar semuanya muat dengan enak dalam kerangka trilogi. Baiklah, aksi Legolas dan teman wanitanya cukup keren, tapi berlangsung agak terlalu lama sehingga pelan-pelan excitement-nya hilang.

Selain itu, subplot-nya justru mengalihkan perhatian dari cerita utama atau membuat saya tak sabar ingin itu cepat diselesaikan. I just want to see more of Bilbo and Smaug, dammit! Sayangnya tontonan saya harus dicemari oleh kisah cinta segitiga antara Legolas, teman wanitanya, dan seorang kurcaci. Really. Pun dengan subplot mengenai Bard (a.k.a Legolas dengan kumis (seriously, just look at the poster above) dan ‘dosa’ leluhurnya yang gagal membunuh Smaug.

Lalu ada subplot Gandalf dan sang necromancer; Mungkin ini memang harus ada untuk menjaga kontinuitas dengan serial The Lord of the Rings, tapi menurut saya tetap kurang nyambung dengan petualangan Bilbo dan kawanan kurcacinya dalam mengambil kembali Erebor; Setidaknya dalam serial LotR, subplot-subplot yang ada sebagian besar masih berkaitan dengan upaya Frodo menghancurkan cincin.

Kalau ada satu hal yang dimenangkan oleh Desolation dibanding Unexpected atau bahkan LotR, itu adalah visualnya. Pemandangan alam Selandia Baru, meski bukan hal baru bagi Peter Jackson untuk dipakai, lebih dieksploitasi habis-habisan di Desolation dan benar-benar serasa membuai kita ke fantasi akan dunia yang lain. Kalau orangnya sangat mementingkan visual dalam menonton film, Desolation tampaknya pantas ditonton di IMAX (atau kalau tak cukup dana, di bioskop biasa tapi nonton di lima baris terdepan).

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s