Resensi: Sucker Punch (2011)

Kalau anda sudah mengenal Zack Snyder dari karya-karya sebelumnya seperti 300 atau Watchmen, maka tagline You Will Be Unprepared seperti yang terlihat pada poster di atas tidak berlaku. Film ini sangat-sangat Snyder banget, sehingga orang yang tidak mengenalnya pun mungkin bisa menduga-duga kalau sutradara film ini sama dengan sutradara 300 dan Watchmen.

suckerpunch

Apa maksudnya dengan ‘Snyder banget’? Preambul tagline-nya cukup pas: A mind-bending vision of reality. Dengan bahasa yang lebih awam: Komik banget. Lupakan segala klise film aksi standar Hollywood yang ‘membumi’ (dalam tanda kutip karena, tentu saja, Hollywood), menonton Sucker Punch seperti menonton live-action komik aksi remaja (macam Naruto atau Bleach) dengan anggaran spektakuler. Dengan standar dan klise khas komik Jepang, tentu saja.

Untuk film ini, saya agak susah untuk tidak bias; saya selalu ngefans dengan gaya sinematografinya Snyder: Stylish, tidak natural, dan setiap adegan dan dialog dengan hati-hati disusun layaknya seorang komikus menyusun panel-panel komiknya. Hasilnya adalah sebuah film dengan visual yang memanjakan mata dan imajinasi. Kalau anda suka dengan tampilan 300 dan Watchmen, Snyder tampaknya lebih gas-pol lagi di film ini.

Saking gas-polnya sehingga, menurut saya, Sucker Punch justru menjadi agak membuat penonton yang tidak begitu nerdy merasa terasing. Setelah beberapa menit film diputar, istri saya berujar, “Ini kayak video klip ya?” Bukan salahnya karena memang bagian awal film hampir tak berdialog; hanya ada narasi tokoh utama, lagu (bukan sekedar musik) pengiring, dan adegan stylish ala ‘video klip’ itu tadi.

Dari sisi cerita, saya rasa Sucker Punch cukup lebih ‘dalam’ dibandingkan 300 dan Watchmen (yang keduanya adaptasi dari komik). Bukan dalam artian kualitas, tapi lebih kepada banyaknya lapisan realitas yang harus dipahami. Bayangkan Alice in Wonderland bertemu dengan Inception; Kira-kira seperti itulah bagaimana kita menonton film ini: Harus sering-sering memilah dan mengingat, mana yang dunia ‘nyata’, mana yang khayal, dan mana yang khayal-dalam-khayal.

And what a wonderland indeed. Snyder juga meliarkan setting film ini, sehingga kita akan dibawa berpindah-pindah antara zaman Steampunk Nazi, samurai Jepang, tahun 60-an, naga dan para orc, hingga masa depan penuh robot. Terlalu aneh untuk selera anda? Ya itu tadi, yang bukan nerd jadi merasa canggung, karena pemilihan setting-setting itu kebanyakan tidak didasarkan pada kebutuhan cerita, tapi lebih kepada…kedengerannya keren aja, why not?

Entah harus disayangkan atau tidak, kenapa film ini lebih terasa sebagai –pardon the language– mimpi basah seorang otaku yang kebetulan punya keahlian dan uang. Istri saya sudah ngacir duluan sebelum filmnya selesai (dan sejak awal saya ajak nonton film ini, dia memang sudah tidak begitu tertarik), padahal di akhir film-lah baru twist ceritanya terasa. Tapi ya mungkin memang harus begitu; kalau film ini dibuat lebih ‘bersahabat’ dengan persepsi awam, hasilnya belum tentu bagus, tapi sudah pasti jauh lebih membosankan.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s