Yang Menuai Belum Tentu Yang Menabur

Keluarga seorang teman baru saja mengalami musibah. Ketika sedang menceritakan masalah itu kepada seorang teman yang lain, betapa terkejutnya saya ketika pasangannya menimpali sambil lalu, “Yah, siapa yang menabur, dia yang akan menuai.”

…the fuck is that?

Lalu ketika saya menceritakan mengenai kesulitan yang dialami si teman itu dengan sebuah rumah sakit, lagi-lagi orang itu berkomentar. “Semua rumah sakit mah sama aja. Kalau orang baik, pasti ada aja yang nolong.”

…the fuck is this shit?!

Mengapa ada orang di dunia ini yang bisa kepikiran untuk mengeluarkan tanggapan yang begitu tidak empatik? Terlebih lagi, kenapa ada orang yang punya world view seperti itu?

menuai

Benar, memang di Alkitab ada istilah serupa yang melahirkan ungkapan ‘siapa yang menabur, ia yang menuai.’ Tapi yang seringkali lewat dari pikiran orang-orang semacam ini adalah, surprise surprise, bad things can happen to good people.

Yang menuai, sayangnya, belum tentu adalah juga yang menabur.

Orang-orang ini tampaknya lupa bahwa dosa tidak hanya urusan kita dengan Tuhan, tapi juga kita dengan orang lain. Karena itu, akibat dosa tidak hanya bersifat spiritual yang kita rasakan sendiri, tapi juga secara riil dirasakan oleh orang lain yang ‘tidak berdosa’ namun kena getahnya.

Dalam kasus keluarga teman saya, memang belum ketahuan siapa yang bersalah dalam musibah kecelakaan itu. Tapi mengasumsikan bahwa si korban pantas mendapatkannya karena ‘yang dia tuai sekarang adalah hasil dari apa yang ia tabur’ adalah lompatan logika yang terlalu jauh, pun tidak sensitif sama sekali.

Setali tiga uang dengan kesulitan keluarga teman saya di rumah sakit. Orang jahat tidak hanya berbuat keji terhadap sesamanya, tapi juga semua orang – termasuk orang baik. Sungguh fitnah jika mengklaim seseorang sebagai ‘tidak baik’ hanya karena melihat hidupnya sedang dipersulit oleh orang lain.

Padahal kalau dilihat dari mite agama maupun sejarah modern, justru orang-orang yang salehlah yang seringkali penuh penderitaan karena hidup di zaman yang secara aktif merongrong keyakinan mereka.

Pada akhirnya, siapalah dia sehingga dia merasa mampu menghakimi keimanan seseorang hanya dengan melihat dari kesusahannya semasa hidup? Saya hanya berharap agar apa yang sedang ia tabur waktu itu tidak akan perlu dituai oleh orang lain.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s