Resensi: Silver Linings Playbook (2012)

Saya bukan tipe orang yang getol mengikuti Academy Awards, tidak seperti istri saya yang rela absen dari kantor sehari hanya untuk bisa menonton siaran langsungnya di Senin pagi. Maka saya juga tidak hapal dengan siapa-siapa atau film apa saja yang menang Oscar; Hanya karena beberapa waktu yang lalu saya sempat riset sejenak tentang Jennifer Lawrence untuk meresensi The Hunger Games: Catching Fire, maka saya baru tahu kalau dia kemarin menang sebagai aktris terbaik untuk film ini. Maka penasaranlah saya: Sebagus apa sih film ini?

silverlinings

Premisnya sejak awal cukup menarik buat saya yang berlatar belakang psikologi: Seorang penderita gangguan bipolar yang berusaha untuk kembali ke kehidupan normalnya. Dan semakin jauh ke dalam film, semakin banyak karakter yang bergangguan: Ayah yang OCD dan punya masalah temperamen, teman yang depresi, tekanan sosial, pernikahan yang di ujung tanduk; resep yang kaya dengan potensi konflik dan drama. Semuanya diaduk dalam genre komedi romantis yang tidak seklise dan seringan romcom Hollywood biasa, namun juga tidak seaneh atau seberat film-film indie yang ingin anti-mainstream.

Dengan genre komedi romantis itu pula, film ini bisa berpindah-pindah antara tertawa bersama para karakter itu mengenai masalah mereka atau bersimpati mengenai masalah yang sama; Di sini saya melihat keberhasilan sutradara dan penulis skenarionya dalam meramu takaran komedi vs. romantisme yang tepat, juga menjaga ritme alur dengan pas sehingga perpindahan antara keduanya terasa mulus (mungkin lebih tepatnya: tidak terlalu terasa perpindahannya).

Rapinya penceritaan ini juga semakin ditonjolkan oleh akting para pemerannya yang jempolan, terutama buat kedua pemeran tokoh utamanya: Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence. Keduanya sangat ekspresif dalam menunjukkan rentang emosi karakternya (yang diperkuat oleh watak karakter mereka yang memang emosional), namun tetap terasa alami dan tak berlebihan. Untuk pemeran pendukung seperti De Niro dan Chris Tucker, untunglah akting mereka justru sedikit agak ‘direm’ sehingga adegan-adegan mereka tidak terlalu komikal.

Kalau ada satu hal yang agak mengganjal saya mengenai film ini, itu adalah kurangnya adegan yang membangun pelan-pelan hubungan antara karakter Bradley Cooper dengan Jennifer Lawrence. Kalau di film-film romcom lain, mungkin montage adegan latihan dansa antara mereka berdua bisa lebih diperdalam untuk menunjukkan chemistry yang mulai timbul, tapi tampaknya si sutradara kehabisan waktu karena harus mengembangkan subplot yang lain juga (hubungan si karakter Bradley Cooper dengan ayahnya).

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s