Ingatan Jangka (Terlalu) Pendek

Mengapa di Indonesia ini hampir tidak ada perubahan perilaku masyarakat yang bertahan lama? Satu-satunya perkecualian cukup baru yang bisa saya ingat (dan sampai sekarang masih membuat saya takjub) adalah penggunaan sabuk pengaman bagi pengemudi mobil; Tidak sempurna sih, tapi saya cukup konsisten melihatnya pada pengemudi mobil pribadi. Lainnya?

kecelakaan

Rute perjalanan saya ke kantor setiap paginya melewati perlintasan kereta api di stasiun Senen. Hari ini, tidak seperti biasanya hari Selasa, cukup banyak antrian di perlintasan itu. Setelah diperhatikan lebih dekat, rupanya para pengendara, terutama bus kota dan angkot, kini berperilaku lebih tertib: Tidak mau memaksa melintas ketika sirine peringatan sudah berbunyi dan palang mulai turun (yang cukup sering terjadi karena banyak aktivitas kereta di pagi hari).

Hal baik? Tentu saja. Macet memang, tapi setidaknya kali ini imbas dari perilaku yang terpuji. Tapi di balik itu selalu ada sinisme: Berapa lama perilaku ini bisa bertahan?

Kalau melihat kejadian-kejadian sebelumnya, mungkin cuma beberapa minggu. Hari-hari pertama setelah terjadinya sebuah peristiwa atau musibah yang cukup spektakuler, perubahan perilaku timbul dengan kuat; Biasanya karena takut kejadian serupa menimpa diri, apalagi bayang-bayang korban yang bergelimpangan pasti diumbar dengan jor-joran oleh media massa.

Perlahan-lahan, ketika hari demi hari lewat, bayang-bayang itu mulai sirna karena media sudah mengalihkan pandangan ke isu lain yang lebih ranum. Maka ketika perilaku yang sudah berubah itu dicoba dipertahankan, yang lebih terngiang-ngiang di benak adalah betapa annoying-nya perilaku baru itu; Mungkin karena waktu tempuh di jalan jadi lebih lama, atau sekedar kesal saja karena perilaku barunya ‘dihargai’ dengan kemacetan yang lebih panjang sementara mereka yang masih berperilaku lama bisa melesat lebih cepat melewati palang lintasan kereta.

Akhirnya, pelan-pelanpun mereka tanpa sadar kembali ke kebiasaan lamanya. Ke mana rasa takutnya? Bukannya karena mereka kemudian jadi lebih berani, tapi karena memang sudah lupa saja pernah merasa takut.

Dengan segudang risiko keselamatan yang sudah harus dihadapi begitu masuk ke belantara jalanan Jakarta, berkurangnya satu perilaku berisiko hampir tak terasa maknanya. Dan kalau mereka sudah (terlalu) nyaman dengan seperangkat perilaku berkendara yang lama, usaha untuk mengubahnya tak cukup dengan rangkaian berita hilangnya belasan nyawa yang muncul sesekali ke permukaan sebelum terlupakan lagi.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s