Resensi: Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)

Ugh. Cuih. Saya menulis ini segera setelah menonton filmnya, hanya karena ada ‘keharusan pribadi’ untuk mendokumentasikan apa-apa saja media yang telah saya konsumsi dan apa pendapat saya tentangnya. Dan saya ingin cepat-cepat menuangkan pendapat ini ke dalam blog supaya bisa segera melupakannya, berikut segala ingatan tentang menonton film ini…

percyjackson

Jadi ‘pendatang baru’ semestinya tidak terlalu berpengaruh terhadap kenikmatan saya dalam menonton sebuah film ‘tengah’ di antara sebuah serial. Harry Potter, Hunger Games, semuanya tidak saya ikuti dari awal, tapi toh tetap enjoy-enjoy saja. Tapi tidak dengan Percy Jackson. Baiklah, mungkin ‘salah’ saya yang tidak menonton film pertamanya atau membaca serial bukunya, tapi toh saya tidak menemui kesulitan itu dengan Harry Potter atau Hunger Games.

Yang mengganjal saya sejak awal film adalah lore, world building-nya yang tidak kuat (atau memang si film terburu-buru ingin masuk ke inti cerita), sehingga saya tidak bisa memasuki zona suspense of disbelief (secara tak sadar mengabaikan hal-hal yang sebenarnya tak masuk di akal karena kita benar-benar dibuai masuk ke dunia khayal si film).

Kalau lagi-lagi harus dibandingkan dengan benchmark-nya fiksi fantasi remaja-slash-dewasa muda (a.k.a Harry Potter), saya bisa lebih ‘percaya’ dengan peron sembilan tigaperempat dan sihir dengan tongkat ketimbang kamp untuk half-blood dan dewa-dewa Yunani. Bagaimana kamp itu bekerja (atau mengapa itu ada) dan apa yang dilakukan para karakter ‘di luar cerita’ tidak dijelaskan dengan memuaskan, sehingga dunia alternatif si Percy Jackson dengan gimmick mitologi Yunani di dunia modern terasa seperti tempelan saja di dunia nyata kita, tidak seperti Hogwarts dan dunia paralel sihir di Harry Potter.

Di samping itu, ceritanya juga lebih susah dicerna dan dibela. Bahkan di Harry Potter sekalipun, tiga ABG yang jadi karakter utama punya sistem support yang luas untuk bisa mengalahkan antagonis utama. Di Percy Jackson, antagonis utama yang berpotensi menghancurkan dunia, yang dalam cerita latarnya hanya bisa disegel setelah pertarungan hebat dengan Zeus, Poseidon, dan Hades, bisa dengan mudah (spoiler!) dikalahkan oleh lima remaja tanggung tanpa bantuan ‘orang-orang gede’.

Dua hal yang mengganjal saya tentang itu: Kalau memang ancamannya cukup signifikan, ke mana para orang dewasanya (hampir tak ada penampakan mereka di film ini), dan kenapa kelihatannya cuma para remaja tanggung yang peduli (orang dewasa yang ada di kamp-pun menyerahkan masalah ini ke tokoh-tokoh utama kita; bahkan Dumbledore takkan sejahat itu)? Yang kedua: Kalau memang antagonis utamanya diceritakan sekuat itu, kenapa yang ditunjukkan malah selemah dan sekurang cerdas itu? Hanya Tuhan dan si penulis skenario yang tahu jawabannya…

Lalu ketika saya bilang ‘dengan mudah dikalahkan’, itu memang karena kelihatan mudah. Tidak ada konflik yang menonjol, benar-benar mengaduk karakternya dan -setelah kemudian diselesaikan- sungguh-sungguh membekas di mereka. Dua karakter utama digambarkan ‘mati’, hanya untuk muncul kembali beberapa menit kemudian (so those didn’t count as spoilers), sehingga tak terasa ada pertaruhan dan perjuangan yang kuat untuk menyelesaikan alur cerita.

Sekarang tentang karakterisasinya; Sungguh-sungguh hambar. Trio karakter kita: Harry-wannabe, Ron-wannabe, dan Hermione-wannabe. Tidak terasa ada chemistry persahabatan di antara mereka bertiga, dan mereka secara individual juga tidak mengesankan. Karakterisasinya juga sangat one-dimensional: Si goody two shoes, si comic relief, dan si level-headed girl. Ya, ada alasan kenapa trio karakter itu saya imbuhi –wannabe di atas. Selain mereka, ada juga si Draco-wannabe sang anak Ares, tapi jauh lebih annoying dan akhirnya (sayangnya) bergabung dengan trio karakter utama, dan ada si anak bawang yang polos, tapi lebih cenderung ke goblok.

Semuanya tidak ada yang saya ‘bela’ atau berikan simpati. Entah saya berteriak-teriak karena mereka melakukan sesuatu yang bodoh di layar (seperti berpelukan melepas rindu ketika antagonis utama sedang dilepaskan dari segelnya), atau saya menggertakkan gigi karena mengatakan sesuatu yang annoying (sebagian besar sih dialognya si anak Ares) dan ingin mereka cepat-cepat pergi dari layar.

Kalau masih belum jelas juga, secara keseluruhan film ini mengecewakan. Saya tak tahu berapa anggarannya, tapi dari segi visual dan audiopun film ini sungguh tidak selevel dengan kasutnya Harry Potter. Kalau niat mereka adalah menciptakan film petualangan fantasi di dunia khayal yang juga dunia nyata kita, keduanya sudah gagal: petualangannya tidak fantastis dan khalayannya tak menjejak ke bumi.

Dan monster lautnya? Cuma satu.

Iklan

One comment

  1. […] Sewaktu saya pertama kali mendengar tentang The Maze Runner tahun lalu, saya tidak begitu teryakinkan untuk menontonnya di bioskop. Yang saya tahu hanyalah sebuah labirin yang mematikan dan sekelompok remaja yang mengarunginya, tapi bagi saya trailer dan sinopsisnya terlihat seperti film fantasi/fiksi ilmiah generik untuk remaja; Satu lagi pengikut jejak The Hunger Games yang ingin menikmati sepercik kesuksesannya, dan mungkin satu lagi pengekor yang gagal seperti Percy Jackson. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s