Kritik Kontroversi Kondom Kebablasan

(…don’t mind the title. I just like the way it sounds.)

Biasanya saya tidak terlalu menghiraukan perdebatan mengenai kondom yang hampir selalu berulang setiap tahun menjelang hari AIDS sedunia. Pandangan saya mengenai hal itu sejauh ini cukup tegas: Itu adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan mengenai safe sex, yang juga tak terpisahkan dari pendidikan seksualitas yang sehat.

Tapi tahun ini nampaknya ada sesuatu yang baru: Ada embel-embel “Pekan Kondom Nasional 2013” yang diiringi sebuah ‘bus kondom’ yang konon katanya akan membagi-bagikan kondom secara gratis di tempat-tempat umum. Saya mencari-cari info lebih lanjut mengenai bus ini, dan akhirnya saya mendapat berita dan gambarnya dari detik:

Bus Kondom
Huh. That’s….something.

Ok, sekarang saya bisa sedikit bersimpati dengan pihak-pihak yang kurang sreg dengan kampanye ini. Fine, mungkin pihak pemrakarsa, sebuah produsen merk kondom terkenal, tidak benar-benar menyirami kondom gratis ke setiap anak muda yang lewat; Mungkin juga mereka memang melakukan pendidikan mengenai penyakit menular seksual di dalam bus itu.

Tapi mengedepankan kondom sebagai pembawa nama kampanyenya? Dengan airbrush semacam itu? Come on, what the hell are they thinking!? Entah brand manager-nya masih mengamini prinsip bad publicity is good publicity, atau mereka menganggap remeh kemungkinan reaksi dari kaum konservatif mengenai bagaimana kampanye ini bisa ditafsirkan dengan simbol utama dan kulit luar yang sesensual itu.

Kalau tujuannya memang edukasi, kenapa tidak membungkusnya dalam kemasan lebih ramah yang bisa diterima oleh semua spektrum ideologi?

Mungkin ini salah Kemenkes juga yang tidak melihat dulu konsep kampanye yang ditawarkan si produsen kondom. Asal setuju saja karena anggaran untuk kampanye sudah sedikit diambil alih oleh pihak swasta. Selama satu tujuan dan tujuannya mulia, ndak apa-apa tho dengan simbiosis mutualisme?

Mungkin di situ salahnya. Tujuan paripurna si produsen kondom ya pastilah memperbanyak basis konsumen dan meningkatkan konsumsi kondomnya (ew, that doesn’t sound right…). Dengan demikian, menjadi jelas motifnya kenapa unsur C (condom) dipampang besar-besar di luar agar terlihat semua orang, sementara unsur A (abstinence) dan B (be faithful) yang seharusnya dikedepankan terlebih dahulu malah ‘diumpetin’ di dalam.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s