Resensi: Hunger Games: Catching Fire (2013)

Saya belum membaca bukunya, dan bahkan film pertamanya pun cuma saya tonton sepotong-sepotong (dan sebagian besar sudah saya lupakan) di saluran film televisi berbayar. Yang saya tahu adalah bahwa konsepnya, sekelompok anak muda diterjunkan ke dalam kompetisi saling membunuh di sebuah tempat terisolasi, dianggap menyontek dari film Battle Royale – meski setahu saya juga penulis novel Hunger Games sudah membantah akan adanya inspirasi yang disengaja.

This image released by Lionsgate shows Josh Hutcherson as Peeta Mellark, from left, Elizabeth Banks as Effie Trinket and Jennifer Lawrence as Katniss Everdeen in a scene from "The Hunger Games: Catching Fire." (AP Photo/Lionsgate, Murray Close)

Jadi cukup mengejutkan saya juga ketika film ini masih bisa saya nikmati meskipun saya tergolong seorang ‘pendatang baru’. Jahatnya Presiden Snow, bagaimana pemerintahan negeri Panem beroperasi, kenapa tokoh utama harus menjalani ‘tur’; semua motivasi dan raison d’etre-nya bisa saya pahami dengan cukup jelas. Entah itu karena memang latar belakangnya tidak sedetail, misalnya, serial Harry Potter, atau memang jagonya sang sutradara dan penulis skenario yang bisa merepresentasikan esensi buku ke dalam film.

Yang juga membantu saya adalah akting Jennifer Lawrence yang cukup bagus sebagai pemeran utamanya, Katniss Everdeen. Sedih dan marahnya cukup terasa; Meskipun tidak seemosional itu juga, tapi ya sudah lebih dari memadai lah untuk ukuran film blockbuster Hollywood. Tokoh-tokoh pendukung lainnya sih saya tidak begitu memperhatikan, tapi itu juga berarti akting mereka sudah cukup untuk tidak menghalangi sang pemeran utama ‘bersinar’.

Dan ngomong-ngomong tentang sedih dan marah, yang membuat istri saya cukup ‘capek’ setelah menonton film ini (dan kemudian membeli dan membaca buku ketiganya karena penasaran) adalah nadanya yang suram. Kalau dibandingkan dengan serial Harry Potter (yang akan selalu jadi benchmark istri saya), sejauh ini di kedua film hampir tidak ada comic relief atau adegan yang bisa sedikit mencairkan musim salju Panem yang opresif.

Sedikit adegan yang adapun, akhirnya, jadi jatuh ke area humor gelap. Bagaimanapun juga, sejauh apa sih kita bisa ngelawak di saat seisi negara tengah menanti reality show di mana sekelompok remaja tanggung didorong untuk saling membunuh?

Iklan

2 comments

  1. […] Ya, sejak awal saya memang lebih tertarik dengan apa dan mengapa labirin misterius itu bisa ada, dan mengapa sekelompok anak muda dengan amnesia diletakkan di tengahnya tanpa arahan apa-apa. The Maze Runner berhasil merawat dan menumbuhkan suspense saya sampai film hampir berakhir… di mana semua pertanyaan dijawab dengan segala klise yang sudah beberapa kali saya jumpai dalam film semacam ini. Ah, betapa saya ingin filmnya memberikan jawaban yang berbeda, sesuatu yang unik dan orisinal; Tapi tampaknya sekuel The Maze Runner bakal tak jauh beda dengan Catching Fire. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s