Nasionalis Elektronis

Kontroversi bocornya program penyadapan Australia terhadap SBY dan orang-orang dekatnya di kepresidenan sayangnya kembali memunculkan sentimen nasionalisme yang menurut saya salah arah. Sudah ada seru-seruan untuk memboikot produk-produk Australia, menghentikan perjalanan ke Australia, mendesak pengusaha untuk menghentikan hubungan bisnis dengan Australia, hingga yang lumayan konyol: Membunyikan klakson tiga kali setiap melewati kedutaan besar Australia di Jakarta.

matamata

Mengapa menurut saya itu salah arah? Karena intelijen adalah sebuah keniscayaan dalam pergaulan antarnegara, serupa seperti memelihara angkatan bersenjata adalah keharusan geopolitik meskipun dengan negara tetangga kita ‘bersahabat’ dan tidak ada niatan untuk menyerang mereka.

Saya kutip kata ‘bersahabat’ karena sesungguhnya pola hubungannya tidak setulus itu; mungkin istilah yang paling mendekati adalah ‘friendly rivalry‘. Meski ada sederajat ketulusan untuk bekerja sama saling membantu, masing-masing tetap harus mengutamakan kepentingan rakyatnya sendiri dan berusaha agar mereka selalu unggul dibanding teman yang juga adalah rivalnya.

Mungkin bisa diibaratkan seperti dua orang murid satu perguruan. Meski mereka berteman dan akan membuat aliansi kalau perguruannya diserang, mereka juga bersaing satu sama lain untuk menjadi yang nomor satu di dunia persilatan. Tentu ini berarti mereka tidak akan saling berbagi ilmu rahasianya atau memberi tips-tips mengenai jurus pamungkas. Salah satu cara untuk bisa ada di atas angin ya dengan mengintip rivalnya ketika sedang latihan.

Dengan demikian, meminta negara tetangga untuk menghentikan program penyadapannya sama saja seperti meminta mereka untuk menutup badan intelijennya: It’s not going to happen, ever. Saya sungguh yakin kalau SBY dan Marty Natalegawa sudah tahu bahwa apa yang dikatakan Abbot benar: Semua sudah sama-sama tahu kalau tiap negara akan berusaha mengintip tetangganya, tapi kita tidak bisa marah selama belum ada buktinya.

Hanya saja, sekarang kan muncul ‘bukti tidak sengaja’ dari bocorannya Snowden, sehingga pemerintah harus pura-pura kaget dan secara resmi protes keras terhadap program penyadapan itu….sambil berharap masyarakat tidak sadar kalau negara kita juga punya lembaga telik sandi yang kerjaannya tak lain tak bukan yaa….memata-matai negara tetangga juga.

Lalu bagaimana seharusnya? Menurut saya ya respon status quo ini sudah tepat. Protes secara normatif sambil sedikit mengancam, lalu berharap berharap isunya diam-diam tersapu ke bawah karpet dalam beberapa bulan ke depan. Toh bagaimanapun juga kita tidak bisa mengontrol apa kebijakan intelijen negara lain karena pasti dirahasiakan. Mereka pasti tetap melanjutkan program penyadapannya dengan lebih hati-hati, dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk memprotesnya…setidaknya sampai ada bocoran baru berikutnya.

Tapi, pemerintah kita bisa mengontrol kebijakan intelijen negara kita sendiri, dan menurut saya energi kekesalan dan amarahnya seharusnya disalurkan dalam jangka panjang di bagian yang lebih konstruktif ini. Saya tidak tahu banyak mengenai dunia intelijen, tapi setidaknya dalam kasus penyadapan telepon genggam ini pemerintah harus berusaha lebih keras melindungi komunikasi kritis presiden dan lingkarannya, entah itu dengan telepon khusus yang anti-sadap, kanal jaringan selular sendiri, atau enkripsi transmisi data yang lebih baik.

Sebab menurut saya, semboyan Australian Signals Directorate itu bagus juga untuk diresapkan dalam hati para pengambil kebijakan intelijen negara kita:

Reveal their secrets … Protect our own

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s