Sesama yang Mana? Musibah Global dan Kepedulian Lokal

Peristiwa taifun Haiyan yang terjadi di Filipina beberapa waktu yang lalu memunculkan kembali polemik lama yang sebenarnya sudah usang: Pemerintah secara resmi dan sejumlah orang secara swadaya menyerukan untuk memberikan bantuan kepada para korban yang sejauh ini mencapai setengah juta orang.

musibah

Lalu sebagian orang lagi, biasanya melalui kanal sosial media, mengkritik bahwa ‘alangkah baiknya kalau kita memperhatikan korban bencana di negeri sendiri terlebih dahulu sebelum berpaling ke luar negeri.’ Ini saya beri tanda kutip sebagai penghalusan karena beberapa orang nadanya lebih nyelekit dari itu.

Ini bukan pertama kalinya terjadi. Ketika peristiwa gempa dan tsunami melanda Fukushima beberapa tahun yang lalu, protes serupa terjadi. ‘Jepang kan sudah tergolong negara yang makmur; Untuk apa kita bantu lagi?’ Dan keberatan ini bukan hanya dilakukan oleh golongan nasionalis atau konservatif.

Saat kelompok-kelompok Islamis menyerukan masyarakat untuk membantu rakyat Palestina dan kelompok Etnis Rohingya di Burma, beberapa orang yang saya kenal cukup liberal atau moderatpun juga sempat nyinyir, kenapa kelompok-kelompok tersebut terkesan lebih peduli dengan orang-orang asing di negeri jauh ketimbang saudara-saudara sebangsa di negeri mereka sendiri.

Baiklah, mungkin mereka ada benarnya ketika berbicara soal prioritas bantuan atau alokasi dana bencana. Tapi secara umum, saya kurang sreg dengan sentimen semacam itu. Sudah adabnya orang bertetangga untuk saling membantu ketika yang lain tertimpa musibah. Ketika tetangga kaya kita rumah gedongnya kebakaran, kita tidak bisa cuma mengangkat bahu dan berkata, “Mereka kan sudah kaya, kita tidak usah bantu lah.”

Atau ketika tetangga kita mengalami musibah, kita juga tidak bisa berpaling dan beralasan, “Tak usah lah membantu mereka dulu, toh untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja kita juga sudah kesusahan.” Kalau ini terus-menerus dituruti, tentu tidak akan pernah kita membantu meringankan musibah orang lain, karena kebutuhan kita sendiripun tak akan pernah ada habisnya. Tak akan pernah kita capai yang namanya sebuah hidup tanpa kesusahan.

Entah kenapa alasan-alasan tersebut masih tetap muncul, padahal soal menolong sesama ini sudah terkodifikasi cukup detail dalam setiap agama. Tak peduli apakah kita tergolong kaya, pas-pasan, atau berkekurangan, dorongan untuk bersedekah untuk yang lebih membutuhkan selalu ditekankan. Pun dengan parabel mengenai menolong orang ‘luar’ atau orang yang bukan berasal dari kaumnya selalu dimuliakan lebih tinggi.

Kalau sepintas dipikir-pikir, mana yang harus diprioritaskan untuk ditolong: Keluarga sendiri atau orang asing? Secara common sense pasti kita otomatis memilih keluarga sendiri. Tapi seringkali kelemahan kita adalah menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak berusaha melakukan keduanya, meskipun upaya kita itu mungkin tak akan pernah sempurna.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s