Resensi: The Woman in Black (2012)

Tidak ada harapan yang muluk-muluk ketika saya dan istri ingin menonton film ini pada suatu malam selepas hari kerja. Selain karena seingat saya nilainya di situs-situs agregator resensi film cukup pas-pasan, kami berdua (terutama istri saya yang potterhead) tak bisa melepaskan persona Daniel Radcliffe dari bayang-bayang film Harry Potter. Radcliffe adalah Potter. Lalu bagaimana sebuah film horor bisa mencekam pemirsanya kalau tokoh utamanya adalah ‘Harry Potter, the boy who lived‘?

womaninblack

Untunglah, film ini tidak butuh Daniel Radcliffe (atau siapapun tokoh utamanya) untuk menjadi seram. Malahan, Arthur Kipps, tokoh yang diperankan Radcliffe, menjadi semacam comic relief yang melepaskan ketegangan sehabis adegan-adegan horor. Mengapa? Kalau kata istri saya, Kipps itu “kepo banget.” Mendengar ada bebunyian aneh di lantai atas sebuah rumah kosong? Didatengin. Melihat ada sosok hitam yang kemudian menghilang dalam sekejap mata? Disamperin. Dan ini semua dilakukan dengan ekspresi Radcliffe yang sangat Harry Potter banget ketika sedang mengendap-endap di Hogwarts.

Memang, di dalam cerita Arthur Kipps digambarkan kurang percaya akan hal-hal yang bersifat supranatural. Tapi mbok ya’o punya reaksi fight or flight gitu lho (apa sistem limbiknya  rusak ya?). Karena setelah dipikir-pikir lagi, kurang seru nonton film horor di mana tokoh utamanya tidak punya rasa takut sama sekali. Alih-alih ikut bersimpati atau ‘membela’ si Kipps, saya dan istri malah geregetan melihat Kipps yang hantam kromo menghadapi segala hal yang seharusnya membuat takut (atau setidaknya kaget) setengah mati

Namun di atas tadi saya bilang untunglah, karena film ini masih lumayan menyeramkan berkat sang antagonis utama, the woman in black dan lingkungan gotik suram yang ia ciptakan. Sinematografinya benar-benar bisa menciptakan suasana yang meneror, jauh di atas perkiraan kami di awal tadi yang mengira ini cuma film horor ecek-ecek, sampai-sampai kami harus menutupi setengah pandangan menonton dengan bantal sofa. It’s just that scary.

Hanya saja, kalau yang diharapkan adalah film horor yang unik dan orisinal, memang sebaiknya jangan berharap banyak. Seram sih, tapi segala klise film horor ada di sini. Mulai dari rumah tua yang ditinggal mati penghuninya, boneka porselen antik yang menyeramkan, hingga arwah penasaran yang ingin membalas dendam. Tapi biarpun klise, elemen-elemen horornya dieksekusi dengan baik sehingga berhasil membuat kami ketakutan. Yah, setidaknya sampai Arthur Kipps melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu yang membuat kami gemas.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s